PEJUANG WANITA SEJATI
DALAM SEJARAH ISLAM

🌸
Tokoh mulia, perisai Nabi (saw), pahlawan wanita yang mengukir sejarah yg tidak banyak diketahui. Sesungguhnya penulis fantasi superhero Barat banyak terinspirasi dan mengambil dari khizanah kaum Muslimin.

Nasibah/ Nusaibah binti Ka’ab bin Umar bin Auf al-Khazrajiah adalah seorang sahabat ( shahabiyah ) dan pejuang ( mujahidah ) wanita mulia. Pernah mendapatkan pujian baik langsung dari Nabi (saw) berkat kegigihan dan kesabarannya.

Ia lebih dikenal dengan Ummu ‘Umarah/ ‘Imarah (أمّ عماره) dan orang pertama di Madinah yang memeluk Islam dan salah seorang perempuaan di antara dua perempuan yang masuk Islam pada Baiat Aqabah Kedua . Dia hadir dalam beberapa peperangan khususnya dalam perang Uhud untuk membantu para pejuang dan prajurit yang terluka. Dia terluka di perang Uhud dalam membela Nabi (saw) pada. Selaib itu, dikenal sebagai salah seorang penukil Hadist Nabawi. Adapun tanggal wafatnya tidak disinggung oleh sumber-sumber sejarah.

Nasibah (ra) menikah dengan Zaid bin Asyim dan dikaruniai anak yang diberi nama Habib dan Abdullah.

Ummu Umarah Nasibah (ra) menuturkan,
“Aku melihat orang-orang pergi dari Rasulullah (saw) dan tidak tersisa kecuali sekelompok orang. Aku, anakku dan suamiku berada di depan Rasulullah (saw) untuk melindungi beliau.”

Ummu Umarah (ra) pernah mendatangi Nabi (saw) dan berkata,
“Aku tidak pernah melihat segala sesuatu kecuali hanya diperuntukkan kepada laki-laki. Keberadaan wanita sama sekali tak pernah dianggap.”

Menanggapi perkataannya itu, turunlah ayat yang mengatakan:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan-perempuan muslim, laki-laki dan perempuan-perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan-perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan-perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan-perempuan yang penyabar, laki-laki dan perempuan-perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan-perempuan yang rajin bersedekah, laki-laki dan perempuan-perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan-perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan-perempuan yang senantiasa menyebut (nama) Allah, telah disiapkan oleh Allah sebuah ampunan dan pahala besar.”
(al Ahzab: 35)

Ummu Umarah (ra) ikut serta dalam beberapa perang besar bersama Nabi (saw). Berperan melayani dan membantu para mujahidin, memberi dorongan kepada orang-orang yang sedang berperang, menghilangkan keraguan pada diri mereka, dan bahkan di saat waktu memungkinkan ia juga tak ragu lagi untuk menghunus senjata dan berperang sebagaimana layaknya seorang perwira.

Ummu Umarah (ra) ikut berperang besama suaminya (Ghaziyah bin Amru) dan bersama kedua anaknya dari suami yang pertama (Zaid bin Ashim bin Amru), kedua anaknya bernama Abdullah dan Hubaib dalam perang Uhud. la sempat terluka parah di saat kemenangan mulai berada di pihak orang-orang kafir. Pakaiannya tercabik-cabik karena sayatan senjata. la berada dalam naungan Rasulullah (saw) dalam keadaan tubuh penuh luka, akibat pukulan dan lemparan anak panah. Luka dalam tubuhnya sekitar 12 luka. Pada waktu itu, ibunya senantiasa mendampingi dan berusaha membalut luka-luka putrinya itu.

Dan di saat Nabi (saw) hendak dibunuh oleh Ibnul Qum’ah, Ummu Umarah merupakan orang yang melindungi Nabi (saw). la melawan Ibn Qum’ah yang hendak membunuh Nabi (saw) dengan melontarkan beberapa pukulan kepadanya. Ibnul Qum’ah pun membalas pukulan-pukulan itu. la memukul pundak Nasibah hingga mengakibatkan goresan pada punggungnya.

Nabi (saw) pernah membicarakannya,
“Derajat Nasibah pada hari ini lebih tinggi daripada derajat siapa pun, aku (Nabi) selalu melihatnya ditempat manapun, aku senantiasa melihat Nasibah sedang berperang di belakangku.”

Selain pada Perang Uhud, Ummu Imarah (ra) juga ikut pada dalam Bai’atur Ridwan bersama Nabi (saw) dalam Perang Hudaibiyah, dengan demikian beliau ikut serta dalam Perang Hunain.

Ketika Nabi (saw) wafat, ada beberapa kabilah yang murtad dari Islam di bawah pimpinan Musailamah al-Kadzab. Selanjutnya khalifah Abu Bakar ash-Shidiq mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang yang murtad tesebut. Maka, bersegeralah Ummu Imarah mendatangi sang khalifah dan meminta ijin kepadanya untuk begabung bersama pasukan yang akan memerangi orang-orang murtad. Abu Bakar ash-Shidiq berkata kepadanya, “Sungguh aku telah mengakui peranmu di dalam perang Islam, maka berangkatlah dengan nama Allah.”

Maka ia berangkat bersama putranya yang bernama Hubaib bin Zaid bin Ashim

Mengenai tanggal wafatnya tidak disinggung dalam sumber-sumber sejarah. Berdasarkan sebuah riwayat, sahabat Umar bin Khattab pada masa kekhilafahannya pernah mengirim hadiah kepada Ummu ‘Umarah. Hal ini menandakan bahwa dia hidup di masa kekhilafahan Umar dan meninggal setelah tahun ke-13 H.

Biografinya, dan kisah lengkap kesertaannya dalam perang Uhud maupun perang-perang lain, bisa anda baca pada sejumlah buku Sirah Nabawiyah, diantaranya:
Sirah an-Nabi oleh Ibnu Hisyam
Futûh al-Buldân oleh al-Baladzuri
Al-Thabaqât al-Kubrâ oleh Ibnu Sa’ad
Al-Isti’âb oleh Ibu Abdil Barr
Siar A’lâm al-Nubalâ oleh al-Dzahabi
al-Maghâzi oleh al-Waqidi
An-Nisâ’ Haular-Rasûl oleh Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi

Demikian rangkuman sangat singkat dari saya, wassalam. H.S@lattas 🌸🍵

🌳🌳🌳🌳🌳🌳

https://youtu.be/fpYaKBfAfw4
https://www.facebook.com/ilmfeed/

mujahidah #muhadditsat #pahlawan_wanita #NasibahbintiKaab #Ummu_Umarah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s