Dalam satu tahun Allah Swt menjadikan 12 bulan, baik menggunakan perhitungan rembulan maupun matahari.

Adapun bulan yang mengikuti perhitungan rembulan yaitu:

  1. Muharrom (محرم): 30 hari.
  2. Shofar ( صفر الخير): 30 hari.
  3. Robi’ul Awwal (ربيع الأول): 30 hari.
  4. Robi’ul Tsanii (ربيع الثاني): 29 hari.
  5. Jumadal Ulaa (جمادى الأولى): 30 hari.
  6. Jumadal Akhiiroh (جمادى الأخيرة): 29 hari.
  7. Rojab (رجب الأصم): 29 hari.
  8. Sya’ban (شعبان): 30 hari.
  9. Romadlon (رمضان): 29 hari.
  10. Syawwal (شوال): 30 hari.
  11. Dzul Qo’dah (ذو القعدة): 30 hari.
  12. Dzul Hijjah (ذو الحجة): 29 hari.

Jika kita hitung, maka bulan yang mempunyai 29 hari ada lima dan bulan yang mempunyai 30 hari ada tujuh: (29X5)+(30X7)=145+210= 355 hari.

Begitu pula bulan yang mengikuti peredaran matahari ada dua belas yaitu

  1. Januari, dalam bahasa arab dinamakan Kaanuun Al-Tsaani (كانون الثاني): 31 Hari.
  2. Februari yang dinamakan Syubaath (شباط): 28 Hari.
  3. Maret yang dinamakan Aadzaar (آذار): 31 Hari.
  4. April yang dinamakan Naysaan (نيسان): 30 Hari.
  5. Mei yang dinamakan Ayyaar (أيار): 31 Hari.
  6. Juni yang dinamakan Haziiroon (حزيران): 30 Hari.
  7. Juli yang dinamakan Tammuuz (تموز): 31 Hari.
  8. Agustus yang dinamakan Aab (آب): 31 Hari.
  9. September yang dinamakan Ayluul (أيلول): 30 Hari.
  10. Oktober yang dinamakan Tasyrin Al-Awwal (تشرين الأول): 31 Hari.
  11. November yang dinamakan Tasyriin Al-Tsaani (تشرين الثاني): 30 Hari.
  12. Desember yang dinamakan Kaanuun Al-Awwal (كانون الأول): 31 Hari.

Jika kita hitung, maka jumlah bulan yang mempunyai 31 hari ada tujuh, bulan yang mempunyai 30 hari ada empat, dan bulan yang mempunyai 28 hari ada satu: (31X7)+(30X4)+28=217+120+28= 365 hari.

Berarti antara setiap satu tahun rembulan dan tahun matahari mempunyai selisih sepuluh hari (365 – 355=10). Jika hal ini berulang-ulang selama tiga puluh tiga tahun maka mempunyai selisih 330 hari.

Setiap empat tahun sekali ada satu tahun kabisat yaitu tahun yang habis dibagi empat yang berarti jumlah hari pada bulan februari ada 29 hari.

Jika hal ini berulang-ulang selama tiga puluh tiga tahun maka mempunyai selisih 8 hari (33:4=8).

Maka dalam waktu tiga puluh tiga tahun ada jumlah selisih 338 hari yaitu 330+8 (sama dengan sebelas bulan delapan hari apabila satu bulan dibuat rata-rata tiga puluh hari atau apabila dibulatkan menjadi satu tahun).

Karena itu, setiap 33 tahun matahari sama dengan 33 tahun sebelas bulan delapan hari atau jika dibulatkan sama dengan 34 tahun rembulan. Inilah yang dinamakan siklus tiga puluh tiga tahun.

Dan apabila siklus ini berulang-ulang sampai tiga kali maka akan ada selisih tiga tahun, dan kita peringati dengan adanya wirid setelah sholat dengan membaca:
سبحان الله

33 kali,

الحمد لله

33 kali, dan

الله أكبر

Juga 33 kali.

Setiap 33 butir subhah (biji tasbih), maka diselingi dengan adanya satu butir subhah yang berbeda.

Akan tetapi siklus itu tidak akan sempurna kecuali setelah menambahkan satu tahun menjadi seratus atau satu abad, hal ini diperingati dengan menambahkan kalimat

الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد يحيي ويميت وهو على كل شيء قدير لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم.

Kalimat itu sebagai penyempurna seratus.

Apabila dalam satu abad terdapat tiga siklus, maka dalam tiga abad terdapat Sembilan siklus selisih tahun matahari dan rembulan. Hal itu diisyaratkan oleh al-Qur’an:

ولبثوا في كهفهم ثلاثمائة سنين وازدادوا تسعا

Yaitu waktu tinggal Ashabul Kahfi di gua selama tiga ratus tahun perhitungan matahari dan ditambah sembilan tahun (menjadi tiga ratus sembilan tahun) perhitungan rembulan.

Dalam hal ini, pembacaan kalimat tahlil:

لا إله إلا الله

Di musholla Al-Anwar setelah sholat shubuh berjumlah tiga ratus kali, salah satunya untuk memperingati siklus tersebut!

Dan yang pokok untuk perhitungan manusia dan hajji adalah perhitungan tahun rembulan. seperti diisyaratkan!

يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج

Karena itu, kita kembali pada pembahasan tahun rembulan.

Allah Swt menjadikan tahun berjumlah dua belas bulan, dan diantara kedua belas bulan itu, terdapat empat bulan yang mulia yaitu Rojab, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah dan Muharram. Ketetapan ini sudah sejak dijadikannya langit dan bumi.

Hal ini diisyaratkan pada kalimat tauhid:

لا إله إلا الله

Jumlah hurufnya ada dua belas:

لا (lam, alif).
إله (Hamzah, lam, ha’).
إلا (hamzah, lam, alif).
الله (alif, lam, lam, ha’).

Keempat bulan yang mulia itu diisyaratkan dengan lafad الله (alif, lam, lam, ha’) yang berjumlah empat huruf. Hal itu disebutkan dalam Al-Qur’an :

إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السموات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم

Setelah terutusnya Rosululloh, kemulyaan itu bukan hanya pada empat bulan tersebut. Akan tetapi, ada tambahan tiga bulan, menjadi tujuh bulan.

Dan hal ini diisyratkan dengan tambahan kata:

إلا (hamzah, lam, alif)

Yang merubah dari negatif (لا إله) menjadi positif (إلا الله) yang berjumlah tujuh huruf.

Ketujuh bulan mulya itu yaitu Rojab (Syahrullooh), Sya’ban (Syahru Rosulillaah), Romadlon (Syahru Ummatir Rosul), Syawwal, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah (Asyhurun Ma’luumat) dan Muharram.

Sehingga dalam bulan-bulan ini ditekankan adanya puasa. 10 Rajab, 15 Sya’ban, Romadlon terutama sepuluh hari terakhir, Syawwal enam hari, Dzul Qo’dah satu hari untuk orang yang akan hajji agar menjadi mabrur, Dzul Hijjah 8 dan 9 (untuk yang tidak berhajji) dan Muharrom 9 dan 10. Sehingga dalam satu tahun berpuasa sunnah tidak kurang dari dua belas hari.

Dalam satu tahun qomariyyah berjumlah 355 hari, dan diantara jumlah itu ada lima hari yang diharamkan berpuasa pada hari itu yaitu Hari raya idul Fithri Satu Syawwal, Hari raya idul Adlha 10 Dzul Hijjah dan Hari-hari tasyriq 11, 12 dan 13 Dzul Hijjah. Dan jumlah hari dalam satu tahun yang boleh ada puasanya ada 350 hari.

Apabila dalam Romadlon berjumlah 29 dan ditambah puasa enam hari Syawwal atau enam hari selain Syawwal yang telah disebut, maka jumlah puasa dalam satu tahun ada minimal 35 hari.

Karena rahmat Allah Swt yang begitu besar, satu Amal kebaikan akan dilipat gandakan minimal 10, sehingga seakan-akan telah berpuasa setahun penuh 350 hari, yaitu jumlah hari yang diperbolehkan ada puasa pada hari itu.

Dalam suatu hadist, Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صام رمضان وأتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر “. رواه مسلم وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه وقد فسر ذلك النبي صلى الله عليه وسلم بقوله : “من صام ستة أيام بعد الفطر كان تمام السنة :(من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها ) . وفي رواية : ” جعل الله الحسنة بعشر أمثالها فشهر بعشرة أشهر وصيام ستة أيام تمام السنة” النسائي وابن ماجة وهو في صحيح الترغيب والترهيب ورواه ابن خزيمة بلفظ : “صيام شهر رمضان بعشرة أمثالها وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة.

Inilah sedikit penjelasan dari Syaikhuna Maimoen Zubair.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s