KISAH PARA PENEBAR BULU . . .
(Pada Allah pun Tak Ada Takut dan Malu 😥)

Kisah yang sangat populer ini bercerita tentang si ‘Fulan’ yang telah menyebar fitnah. Namun segera sadar lalu bergegas mohon maaf pada yang di fitnah-nya, seorang yang dikenal banyak orang sebagai ‘orang bijak’.

“Besok kembalilah ke rumahku lagi dengan membawa kemoceng. Sembari jalan kemari cabutlah bulu-bulu kemoceng itu. Sepanjang jalan yang kau lalui, buang dan sebarlah bulu2 itu . . .” Kata orang yang dimintai maaf, ketika ‘Fulan’ sowan ke rumahnya.

Esoknya ‘Fulan’ benar kerjakan semua perintah orang itu. Sepanjang jalan menuju kediaman si ‘orang bijak’. Dicabut dan di tebarkan bulu-bulu dari kemoceng itu.

Sesampai di rumah yang dituju, setelah ber-bincang sejenak, Fulan disuruhnya pulang lagi. Sambil di perintah untuk pungut kembali bulu2 kemoceng yang tadi dibuangnya. Semua . . .

Dengan taat dikerjakan juga ‘perintah’ itu meski dirasa aneh. Ternyata bukan hal yang mudah. Bulu2 tadi telah beterbangan kemana saja. Entah. Hanya ditemukan barang dua atau tiga. Tersangkut perdu . . .

Bolak balik berkali jalanan itu ‘disapu’. Tetap saja tak bertambah temuan bulu-bulu. Sampai larut malam. Fulan tergeletak kelelahan di sisi jalan.

Matahari belum terbit Fulan sudah di depan pintu si ‘orang bijak’. Duduk takzim menunggu.

❤❤❤

“Lihatlah Fulan. Cuma tiga helai bulu yang bisa kamu temu dan kumpulkan lagi. Kemana sisa-nya ?”

“Bertebaran kemana saja sekehendak angin mau. Bulu-bulu itulah fitnah yang telah kau sebar”

“Tersebar kemana saja diluar batas kendalimu. Mungkin satu dua kembali dan kau bisa benahi. Namun sisanya ?”

“Telah menjadi dosa yang beranak-pianak, berkembang tak berbatas tak berujung. Lampaui batas tempat dan waktu. Itu artinya, sampai engkau matipun, fitnah-mu, kata2 ber-bisa mu, tetap akan menyebar . . .”

“Sanggup kah kau menerka, membayangkan, ‘timbangan’ catatan amal-mu kelak ?”

Fulan terdiam kelu . . .

😥😥😥

Tak perlu jadi orang bijak untuk bisa mengerti arti cerita itu. Tak perlu jadi orang ‘alim’ untuk paham, saat Nabi mulia katakan ‘fitnah itu bak makan bangkai saudaranya’ dan lebih berat dosanya dari pada memakan riba . . .

Tak butuh pula ribuan hari mengkaji kitab untuk paham makna, ‘Sesungguhnya yang mengada-ada kebohongan, hanyalah orang2 yang tidak beriman kepada ayat2 Allah, dan mereka ini adalah para pendusta’ (An-Nahl : 105)

❤❤❤

Banyak dari kita mencari dan membuka aib sesama. Bahkan jika tidak ada pun di buatlah kebohongan. Fitnah.

Tak sadar, betapa besar dosa kita yang bersumber dari aib kita sendiri yang tak terbuka. Tak ada sanak, teman, khalayak, yang mengetahui.

Seorang alim katakan, “Seandainya dosa-dosa itu ada baunya, maka sesungguhnya tak ada seorangpun yang mau duduk bersamaku” ❤

❤❤❤

Jika sekarang kita bisa berdiri gagah, kepala tegak, penuh rasa bangga, hanya karena Allah berkenan menutup aib kita.

Lalu mengapa kita menyebar ‘aib palsu’, fitnah tak berdasar dari saudara kita . . .😥

❤❤❤

Bagaimana dengan si Fulan dalam kisah diatas tadi ?

Tak perlu dipikirkan lagi. Cuma kisah. Andai benar terjadi, sepertinya si Fulan mungkin tak peduli lagi ‘per-maaf-an’ dari si orang bijak.

Dia sedang sibuk berpikir cara mengumpulkan kembali bulu-bulu yang terlanjur menyebar, terbawa angin, yang telah jadi ‘dosa abadi’ . . .

❤❤❤

Pulogebang Permai, Jakarta Timur
Senin Legi, 06 Mei 2019

Edisi ‘Ramadhan Jalan Tuk Kembali ❤’

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s