SEJARAH AULIYA DI TEGAL

“Kurang lebih Ada 400 waliyullah yang dimakamkan di Tegal”Sumbernya berasal dari getok tular para santri. Ini sangat menarik karena Slawi yang konon berasal dari “selawe (25) wali” juga merupakan misteri bagi sejarah kota ini yang sampai hari ini belum dituliskan. Logis saja karena misal di Tegal (kota dan kabupaten) ada makam 400 wali. Misal di kabupaten Tegal ada 18 kecamatan dan di kota ada 4 kecamatan. Misal satu kecamatan ada 20 Kyai, Habaib dan Auliya maka kita punya 400an” Jaya kemudian menyalakan Djarum supernya tanda diskusi ini dibuka. Budi kemudian membacakan pengantar diskusi ini. Dia bercerita Kita hidup di Tegal, salah satu tanah yang diberkahi Allah. Pengajian, Yasiinan, Tahlilan, Maulidan, Manaqib bagaikan lentera dan bintang yang bertebaran di kota dan kabupaten ini. Dari gang ke gang, RT, RW sampai desa-desa kegiatan religius tak pernah padam. Di kota ini khaul memperingati ulama hampir ada setiap bulan. Inilah tempat yang ditakdirkan para ulama dan auliya besar hidup dan bersandar menghembuskan nafas akhir mereka. Inilah kota yang ditakuti para penjajah karena hidup serat malang sumirang dalam tiap darah penduduknya. Diskusi santrijagad kali ini akan membahas riwayat dan sejarah ulama Tegal yang para peserta ketahui, apa yang mereka kontribusikan untuk perkembangan masyarakat Tegal juga apa pelajaran yang bisa kita petik dari perjuangan mereka. Diskusi ini sendiri sangat berat karena seharusnya merupakan tanggung jawab pemerintah terutama Kementerian Agama atau MUI untuk menginventarisir data-data juga sejarah dan kiprah para ulama dan sholihin suatu wilayah. Diskusi kami terbatas hanya akan melakukan list dari ulama-ulama yang kita kenal selama ini. Syukur-syukur mendapat tambahan dari teman-teman atau responden lain. “Para Peserta Bersantai Menikmati Udut dan Wedhangan” Kami bersama meyakini agenda “syirik wal bid’ah” terhadap kuburan para ulama adalah agenda global. Supaya ketika agama hindu memiliki tinggalan, Kristen dan Yahudi memiliki artefak-artefak sementara islam hanya tinggal cerita, yang akan dianggap dongeng dan khayalan sebelum tidur jika tidak didokumentasikan, diziarahi, diperingati setiap tahunnya. Bayangkan tak ada khaul, tak ada maulid di kota ini. “Islam akan sepi” seperti kata Buya Hamka, mahaguru Muhammadiyyah dalam akhir hayatnya. Jaya bercerita tentang bagaimana toponimi Tegal terbentuk seperti desanya yang bernama kesuben dari asal kata Ki Subi (Kyai Subi) seorang pembantu Sunan Amangkurat yang meninggal konon karena berperang di desa tersebut. Balapulang sendiri adalah ketika terjadi “bala pulang” dimana bala tentara Sunan Amangkurat terlalu lelah sehingga mesti berpulang. Daerah perpisahannya dinamakan Balapulang. Ada versi ketika di Slawi pasukannya tinggal 25 (Slawi) dan ketika di Balamoa (moa = habis) semua pasukannya habis. Ini mesti ditelusuri kembali. Jaya bilang: “budaya menulis di kita masih sedikit. Tak cukup menulis saja, kita pun mesti rajin melakukan validasi data kepada orang tua-tua kita, para ulama dan habaib untuk menambah literatur kita” Perihal Sunan Amangkurat, Sunan Panggung, Syeh Siti Jenar juga Syeh Mashur Al Hallaj kita perlu hati- hati sekali menafsirkannya. Banyak sejarah dipelintir oleh Belanda oleh para orientalis juga karena mereka menerapkan “devide et impera”, Belanda dan orientalis mencari kelemahan islam, juga perbedaan- perbedaan khilafiyyah dan kemudian membenturkannya. Karena mereka tahu bahwasanya islam akan hancur, akan ketinggalan dalam sainstek karena umat islam sendiri yang tidak mau bersatu. Mereka membenturkan kejawen dengan santri, membenturkan wahdatul wujud. Mereka benturkan tradisionalis islam dan modern, Diadu oleh mereka NU dan Muhammadiyyah. Ketika kurang berhasil, tidak kurang akal pula mereka kini membenturkan syiah dengan ahlussunnah, bahkan Syiah sekarang dimusuhi seolah bukan islam. Perihal ini kami teringat Sayyidina Ali pernah ditanya apakah Khawarij kafir? Beliau menjawab tidak! Mereka islam saudara kita. Betapa hati-hatinya beliau dan tidak mudah mengkafirkan sesama islam. Habib Ali Al Jufri dari Uni Emirat Arab berkata: “Musuh kita sebenarnya adalah yang meyakinkan kita bahwa Suni dan Syiah bermusuhan” Beberapa contoh adalah kita perlu meneliti ulang siapa Sunan Amangkurat yang benar-benar tidak adil secara penulisan sejarah. Sementara kita tahu, Sunan Amangkurat melahirkan banyak ulama besar di Tegal. Bagaimana orang-orang baik bisa lahir dari orang jahat? Budi pernah berasumsi mencoba mengambil sudut pandang non mainstream dengan catatan pendeknya tentang Sunan Amangkurat: “Sunan Amangkurat adalah putera tokoh Islam besar: Sultan Agung Hanyakrakusumo, diduga juga salah seorang Mursyid Thariqoh. Dari sanad-sanad tadi kelak menurunlah Pangeran Diponegoro yang konon merupakan Mursyid Thariqoh Naqsyabandi, seorang pejuang santri sejati. Sunan Amangkurat I berguru pada Syekh Syamsuddin yang dari kabar para orang tua langsung datang dari Bashrah ke Indonesia, ke kota kita. Pesan ketika beliau meninggal: “kuburkan aku di dekat guruku”, yaitu di Tegalarum atau Pekuncen. Sunan Amangkurat seperti mengalami fitnah secara literatur oleh Belanda bahkan sejarawan yang menggunakan literatur mereka, padahal kalau ditilik beliau memperjuangkan supaya NKRI tetap utuh. Orang-orang menganggap beliau bersekongkol dengan belanda, tapi itu politik, trik agar bisa memusnahkan mereka dari bumi pertiwi. Gus Dur pun dianggap antek Zionis, itu Gus Dur. Masih benar-benar dekat. Bagaimana kita membayangkan politik yang berkecamuk dahulu kala?” “Ada kejadian menarik di Sunan Amangkurat I. Saat wafatnya beliau berpesan kepada Sunan Amangkurat II supaya meneruskan bekerjasama dengan Belanda, lalu menumpas mereka dari belakang. Sunan Amangkurat dianggap belanda sangat membahayakan keberadaan, hingga diadu dombalah dengan Raden Mas Alit. Kondisi kacau balau, Kesultanan Plered pun menjadi saksi berdarah ulama backingan Raden Mas Alit dieksekusi. Para pakar sejarah menyebut ini kejadian terkelam, 5000 lebih ulama dieksekusi (versi belanda). Pertanyaannya kalau ini benar terjadi, itu ulama model apa? Wahabi? Ahmadiyah? Kebatinan? Atau ulama settingan belanda? Jika benar tragedi Plered terjadi, kita tak pelak mesti yakin yang dieksekusi adalah ulama yg memberontak, atau ulama-ulama yg mengajarkan penyimpangan seperti orang yang menyamar menjadi Syeh Siti Jenar” “Dulu jaman benar-benar keras. Ulama benarpun dieksekusi karena dianggap akan sulit dipahami seperti Al Hallaj, Syeh Siti Jenar, Mbah Panggung. Jenazah Sunan Amangkurat I kemudian diusung ke pekuncen, tempat terakhirnya. Pernah ada cerita dari kuncennya (juru kuncinya) menjadi saksi dari jasad Sunan Amangkurat yang masih utuh. Jasad yang utuh menurut ilmu santri beliau ini tak pernah tinggal tahajud dan wudhu juga huffad alqur’an. Beberapa orang yang salah kaprah meyakini Sunan Amangkurat memakai ajian Bathara Karang, Pancasona, Rawarontek, dst. Budi tidak meneruskan, menutup dengan menyampaikan Perihal Sunan Amangkurat I sendiri merupakan buku besar yang bisa dibahas Santrijagad secara khusus. Diskusi dilanjutkan dengan Geko yang mengeluhkan pesantren saat ini. Dia berpendapat kita sekarang harapan untuk menghasilkan ulama untuk penerang satu desa atau kecamatan sekarang pupus. Pondok semakin berkurang. Jaya merespon mungkin jalan terakhir pesantren bisa bertahan adalah memusatkannya, perlu dibangun semacam taman miniatur dunia islam seperti taman mini dimana ilmu-ilmu bisa ditimba dari desa/perkampungan tersebut. Dahulu di Surabaya terkenal kampung pesantren Dresmo. Rizki Adi dan Mitra yang sedari tadi diam kemudian ikut membantu listing ulama yang ada di Tegal dan sekitarnya. Kami membagi menjadi 4 era supaya memudahkan klasifikasi. Era 1400-1500 (Era Transisi Majapahit-Demak, Walisongo) Hiduplah ulama besar Mbah Panggung, Raden Watiswara (Sayyid Syarif Abdurrohman) dengan asumsi berinteraksi dengan Sunan Kalijaga (atau bahkan anak Sunan Kalijaga dari Nyi Siti Zainab) yang mengalami masa akhir majapahit tahun 1478 hingga kelahiran kerajaan pajang 1546. Sunan Kalijaga konon bila ke Tegal menyamar menjadi dalang dengan nama Ki Dalang Bengkok. Mbah Panggung dikabarkan juga berinteraksi dengan Sunan Kudus yang lahir tahun 1400. Julukan Mbah Panggung adalah Sunan Geseng yang makamnya ada di sekitaran Yogyakarta. Versi Jogjakarta Sunan Geseng adalah murid Sunan Kalijaga yang terbakar di hutan ketika sedang bertapa. Tinggalan dari Mbah Panggung adalah serat malang sumirang. Sebuah serat indah yang sejatinya adalah tentang tasawwuf tingkat tinggi selaras Syeh Ibnul Arabi juga Syeh Manshur Al Hallaj. Era 1600 Pangeran Surohadikusumo (Mbah Semedo/Semedhi) , kurang begitu diketahui datanya Pangeran Benawa (Anak darri Jaka Tingkir/ Hadiwijaya), Ayah dari Mas Jolang, Kakek dari Sultan Agung. Di akhir hayatnya pangeran Benawa mengembara ke Barat, pergi dari dunia politik (sekitar Pemalang dan menjadi ulama) Ki Gede Sebayu, bersama pangeran Benawa menyingkirkan Arya Pangiri. Semenjak itu beliau terkenal dan dijadikan pemimpin Tegal Sunan Amangkurat I, meninggal di Wanayasa Banyumas dalam perjalanan ke Batavia dalam kisah pemberontakan yang tragis. Dimakamkan di Pekuncen, konon tanahnya mengharum sehingga dinamakan Tegal Wangi Pangeran Purbaya (Jaka Umbara Bin Sutawijaya Bin Panembahan Senopati) Pangeran Hanggawana, putra dari Ki Gede Sebayu Ki Ciptosari Balapulang Mbah Subi, tentara dari Sunan Amangkurat. Dimakamkan di Kesuben Era 1700-1800 Habib Muhammad Bin Thohir Al Haddad Mbah Ki Ageng Suroprono Mbah Giri (Pendiri desa Giren) KH. Abu Ubaydah KH. Kurdi Bin Mbah Ki Ageng Suroprono KH. Armia Bin KH. Kurdi KH. Anwar Lemah Duwur Mbah Faqih Pesayangan KH. Sholeh Pekuncen KH. Baedowi Babakan Era 1900-sekarang Romo sepuh KH. Said bin KH. Armia Habib Muhammad Bin Ali Al Haddad KH. Rois bin KH. Armia (adik KH. Said) KH. Muarif Giren (Putra Angkat dari KH. Said Bin KH. Armia) KH. Romdhon (Kakek Nyai Jamilah, Istri KH. Said Bin KH. Armia) KH. Umar Asnawi Kebasen KH. Miftah Kajen KH. Barmawi Tegalwangi KH. Abu Suud Sutapranan KH. Manshur Kalimati KH. Jalil Kalimati KH. Mustofa Pegirikan (Putra KH. Said Bin KH. Armia) KH. Sanusi Kesuben KH. Tarhadi Cikura KH. Isa Babakan KH. Mufti Babakan Habib Hasan Bin Husein BSA KH. Nasichi Chobir Kebasen KH. Abdul Wahab Kalikangkung KH. Anang Tafsir Mbah Jahir (sejaman Gus Miek) Habib Tholib bin Muhsih Al Attas Bumijawa Mbah Busyro Habib Ghosim Bin Hasan Bin Husein BSA Habib Abdullah Bin Ahmad Al Kaff (Ayah Habib Thohir Al Kaff) Kyai Utsman Rifai Rancawiru Kyai Abdurrohim Durensawit Habib Hasan Bin Husein Bin Muhammad Bin Thohir Al Haddad Habib Murtadho bin Ahmad Al Hiyed Habib Hadun Al Attas Belum kami ketahui dan perlu riset mendalam: Mbah Komaruddin Mbah jinten/undagan, gurunya mbah benowo benawi (mungkinkah ini pangeran Benowo) Mbah Sutawijaya rancawiru, dijadikan nama jalan di Pangkah (mungkinkah ini Raden Sutawijaya?) Mbah Langgeng (dimakamkan sekitar Mbah Semedo) Mbah Kramat (baru dipugar sekitar tahun 2000an) Mbah Pendil Wesi Mbah Kendal Serut Syeh Abdul Ghoffar kendal Mbah Kalasan Karanganyar Kedungbanteng Syeh Abdullah bin Malik Kaliwadas (merupakan salah satu penyebar islam di Tegal, dengan tahun tidak diketahui) Syeh atas angin (abdurrohman al maghribi) Mbah abdurrohim/mbah besus/mbah kemuning Mbah imam basyari Data ini perlu dikoreksi, divalidasi oleh Ulama terkait dan pewarisnya. Kami bermohon maaf atas kesalahan segala catatan kecil ini atas keterbatasan pengetahuan kami. Kami bermohon berkah turun dari ditulisnya nama-nama ulama ini. Semoga catatan ini bisa menjadi motivasi khususnya bagi warga kita Tegal dan masyarakat seindonesia untuk melakukan dokumentasi dan pencatatan ulama setempat yang sudah berlalu agar kita menghargai jasa-jasa mereka sebagai pahlawan nasional Indonesia. Tidak kita mengenal Tuhan dan agama kecuali lewat mereka. Disusun bersama: . Adi Jaya Rizkiawan . Habibie Wilyama Dwi Sunu . Mitra Satriani . M. Budi Mulyawan . Rizki Adi Prianto Taman alun-alun Rumah Dinas Bupati Tegal Jum’at Malam, 12 Juni 2015 *

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s