Keberkahan Maulid

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ،ٍ مِفْتَاحِ بَابِ رَحْمَةِ اللهِ، عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللهِ، صَلاَةً وَسَلاَماً دَائِمَيْنِ بِدَوَامِ مُلْكِ الله، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهَ. أَمَّا بَعْدُ.

Masyhad al-Imam al-Quthb al-Musnid, al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi Tentang Keberkahan Maulid Nabi ﷺ

Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi berkata :

Ketika menghadiri Maulid, Ami Idrus (bin Umar al-Habsyi) berkata, “Wahai anakku, perhatikanlah kumpulan orang ini, pertemuan ini belum pernah dilakukan pada masa masa dahulu. Dalam pertemuan maulid ini aku memiliki sebuah pandangan.”

“Apa itu?” Tanyaku.

“Dalam perang Tabuk, an-Nabi ﷺ dan para sahabatnya tidak mempunyai cukup perbekalan. Beliau ﷺ memerintahkan agar setiap orang membawa makanan apapun yang mereka miliki. Ada yang datang membawa sebutir kurma, ada yang membawa dua butir, ada pula yang membawa segenggam gandum. An-Nabi ﷺ mengumpulkan makanan-makanan tadi, lalu memberkatinya. Kemudian Beliau ﷺ memerintahkan setiap sahabat mengambil sesukanya. Ada yang mengambil satu ember, ada yang mengambil satu karung penuh. Masing masing sahabat akhirnya mendapat bekal yang banyak berkat doa an-Nabi ﷺ. Begitu pula pertemuan Maulid ini. Setiap orang yang datang memiliki sirr, ada yang sedikit ada yang banyak. Kemudian an-Nabi ﷺ memberkatinya. Seusai Maulid, setiap orang pulang membawa sirr yang sangat banyak.”

Aku berkata kepada Ami Idrus, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas masyhad-mu ini.”

Catatan :
Sayyidina al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, beliau adalah salah seorang Mursyid thoriqoh Alawiyah, paman daripada al-Quthb al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi, muallif Maulid Simthud Duror. Dan juga al-Quthb al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih mengambil salah satu silsilah thoriqoh Alawiyah dari beliau, al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi rodhiyAllahu ‘anhum wanafa’ana bihim wabiulumihim wa asrorihim fiddaroini, aamiin.

Adab & Tatakrama Saat Menghadiri Maulid Nabi ﷺ
“Petuah Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari”

Tulisan berikut ini disarikan dari kitab an-Nur al-Mubin fi Mahabbat Sayyid al-Mursalin karya Hadhratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, salah satu tokoh sentral dan pendiri Nahdlatul Ulama. Beliau termasuk salah seorang pakar hadits (muhaddits) terkemuka di masanya, yang menjadi rawi ke-24 dari rantai silsilah hadits Shahih Bukhari-Muslim dari gurunya, asy-Syaikh Mahfudz at-Tarmasi, guru besar Masjidil Haram yang bermadzhab Syafi’i.

1. Adab Para Salaf Shaleh sebelum Hadir ke Tempat Acara Maulid Nabi ﷺ.

Sebelum menghadiri acara Maulid Nabi ﷺ, terlebih dahulu para salaf shaleh melakukan hal-hal berikut ini :

• Berwudhu dengan baik dan sempurna.
• Dalam keadaan masih basah dengan air wudhu, ia membaca : “Shalallahu ‘alaa Muhammad” 33x tanpa diselingi berbicara dengan yang lain.
• Lalu diusapkan ke wajahnya dan membaca doa sehabis wudhu.
• Kemudian melakukan shalat sunnah 2 rakaat dengan niat shalat sunnah Wudhu. Rakaat pertama setelah al-Fatihah membaca surat al-Kafirun, rakaat kedua setelah al-Fatihah membaca surat al-Ikhlas.
• Setelah salam membaca dzikir Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar masing-masing 3x.
• Lalu boleh ditambahkan shalat sunnah Hajat 2 rakaat. Rakaat pertama setelah al-Fatihah membaca surat al-Kafirun 3x, rakaat kedua setelah al-Fatihah membaca surat al-Ikhlas 3x.
• Setelah salam membaca istighfar 21x dan shalawat 3x.
• Lalu berdoa membaca niat untuk hadir Maulid Nabi ﷺ.

Contoh doa niat untuk hadir Maulid Nabi ﷺ :

“Allahuma Yaa Allah, Nawaitu an ahdhural maulidun biniyyati li ridhoi’llaah wa li ridhoi’ Rasulullah Muhammad ﷺ, Wa Syafa’ati Rasulullaahi ﷺ fii diin wad dunyaa wal akhirah, wa ‘alaa niyyati ‘anallaaha yaqdhii hajaatinaa, wayaqbalu dawaatinaa, wa yasyrahu shuduuranaa, wa yuyassiru ‘umuuranaa wa umuuraal muslimiin fii diin wad dunyaa wal akhiirat wa yaj’alunaa min ‘ibaadihish shalihiin.”

“Allahumma Ya Allah, kami niat untuk hadir Maulid Nabi-Mu ﷺ, dengan niat agar mendapat ridha Allah dan Rasulullah ﷺ, serta syafa’at Rasulullah ﷺ di dalam agama, dunia dan akhirat. Serta dengan niat agar Allah memberikan semua hajat (kebutuhan) kami, mengabulkan doa-doa kami, melapangkan kesulitan kami, memudahkan semua urusan kami dan urusan kaum muslimin di dalam hal agama, dunia dan akhirat, dan jadikanlah kami hamba-Mu yang sholeh.”

Atau bisa juga dengan membaca niat sebagai berikut :

نويت ان احضر المولد مثل ما نوي به اسلافنا الصالحون وبنيۃ تعظيم شهر ولادۃ النبي صلي ﷲ عليه وسلم وبنيۃ زيادۃ الايمان والتقوي والمحبۃ والقرب الي ﷲ والي الرسول صلي ﷲ عليه وسلم والي اسلافنا الصالحين

“Nawaitu an ahdhural maulid mitsla maa nawaa bihii aslafunaa ash-shaalihuun, wa bi niyyati ta’dziimu syahri wilaadatin Nabii ﷺ. Wa biniyyati ziyaadatil iimaani wat taqwaa wal mahabbati wal qurba ilaa Allahi wa ilar Rasuuli ﷺ wa ilaa aslaafina ash-shalihiin.”

“Aku niat untuk menghadiri maulid Nabi ﷺ, sama seperti niatnya para salaf shaleh sebelum kita, dengan niat memuliakan bulan kelahiran Nabi ﷺ dan dengan niat menambah iman, takwa, kecintaan dan kedekatan kepada Allah dan Rasulullah ﷺ serta para salaf shaleh.”

Atau bisa juga dengan membaca niat sebagai berikut :

نَوَيْتُ أنْ أَحْضُرَ المـولِد مِثْل
َ ما نَوى أسْلافُنا الصّالِحون

“Nawaitu an ahdhural maulidun mitsla maanawaa aslafunaash-shalihiin.”

“Aku niat hadir maulid Nabi ﷺ seperti niatnya para salafuna shalihin.”

و بنيَّة تَعْظِيم شَهْر وِلادَةِ النَّبي صلى اللّه عليه و آله و سلّم

“Wa biniyyati ta’zhiiman syahru wiladatin Nabi ﷺ.”

“Dan niat Mengagungkan bulan kelahiran Nabi ﷺ.”

و بِنِيَّة زِيادةِ الإيمان و زِيادَةِ التَّقوَى و المَحبَّة و القُرب إلى اللّه وإلى الرَّسول صلى اللّه عليه و آله و سلّم و أسلافِنا الصّالحين

“Wa biniyyati ziyaadatil imaan wa ziyaadatil taqwaa wal mahabati wa qurb ilaa Allah wa ilaa Rasulullah ﷺ wa aslafinaash shalihiin.”

“Dan dengan niat bertambahnya iman dan takwa, bertambahnya cinta serta mendekatkan diri kepada Allah, Rasulullah ﷺ, dan Salafuna Shalihin.”

و بنيّة إتِّباعِ الرَّسول صلى الله عليه و آله و سلّم ظاهِرًا و باطِنًا في القَوْلِ و الفِعْلِ و النِّيَّة

“Wa biniyyati ‘ittibaa’ir Rasulullah ﷺ, zhahiran wa bathinan fii qawli wal fi’li wan niyyat.”

“Dan dengan niat untuk mencontoh/meneladani/mengikuti Rasulullah ﷺ, secara zhahir dan bathin, baik dalam perkataan, perbuatan dan niat.”

و بنيّة أنَّ اللّهَ يُحَسِّن أخْلاقَنا و آدابَنا

“Wa biniyyati ‘anna Allaha yuhassin akhlaqanaa wa adaabanaa.”

“Dan dengan niat semoga Allah memperbaiki akhlak dan adab kita.”

و أَنَّ اللّه يَرْزُقنا النَّظَر إلى وَجهِ الحَبِيب سَيِّدِنا مُحمّدٍ صلّى اللّه عليه و آله و صحبِه و سلّم يَقْظَةً و مَنامًا في الدُّنْيا و الآخِرة و في البَرزَخ و هُوَ راضٍ
عَنَّا

“Wa annaallaha yarzuqunaa an-nazhar ilaa wajhi al-habib Sayyidina Muhammad ﷺ, yaqzhatan wa manaamaan fii dunya wal akhirah wa fiil barzakh wa huwa radhin ‘annaa.”

“Serta semoga Allah memberi rizqi kepada kita untuk dapat memandang wajah kekasih kita, Rasulullah ﷺ, baik secara langsung ataupun mimpi, di dunia maupun di akhirat, serta di alam barzah, dalam keadaan beliau, Rasulullah ﷺ, ridho kepada kita.”

و علَى كُلِّ نِيَّةٍ صالِحة في خَيْرٍ و لُطْفٍ و عافِيَة و سَلامَة

“Wa ‘alaa kulli niyyati shalihat fii khair wa luthfi wa ‘afiyaat wa salaamat.”

“Dan kami berniat dengan semua niatan yang sholeh dalam kebaikan, kelembutan, ‘afiyah (kebahagiaan) dan keselamatan.”

Hal itu semua di atas, seyogyanya dilakukan mulai berwudhu hingga shalat sunnah Wudhu sampai shalat sunnah Hajat, dilakukan tanpa diselingi perbuatan dan pembicaraan yang tidak berarti. Serta dilakukan dengan tertib pelaksanaannya dan berkesinambungan. Jika waktu tidak memungkinkan paling tidak shalat sunnah Wudhu lebih diutamakan.

2. Adab Para Salaf Shaleh saat Hendak Hadir ke Tempat Acara Maulid Nabi ﷺ.

Setelah melakukan amal shaleh di atas, barulah para salaf shaleh berjalan menghadiri Maulid Nabi ﷺ. Dalam masa perjalanan itu, hal-hal yang mereka lakukan adalah :

• Bertawakkal kepada Allah SWT.
• Sangat mengharapkan limpahan berkah, rahmat dan maghfirah Allah tercurahkan kepadanya.
• Berjalan penuh rasa tawadhu’ dan tadharru’ (menghadirkan perasaan khusyu’, seakan-akan hendak menemui Baginda Nabi ﷺ bersama para sahabatnya, dan para auliya’-Nya, yang disaksikan oleh Allah SWT. serta para malaikat-Nya).

Menanamkan adab batin ini sungguh sangat utama di dalam menghadiri Maulid Nabi ﷺ. Karena Allah melihat dan menyaksikan hati para hambaNya. Sebagaimana firmanNya dalam hadits qudsi : “Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba terhadap-Ku.”

3. Adab Para Salaf Shaleh saat Berlangsungnya Acara Maulid Nabi ﷺ.

Biasanya para salaf shalihin memperbanyak membaca shalawat kepada Baginda Rasulullah ﷺ, baik selama perjalanan, saat dan selama Maulid Nabi ﷺ berlangsung, baik dibaca secara sirr (dalam hati) ataupun jahr (diucapkan dengan lisan).

Momentum yang paling baik dan berkah dalam pembacaan Maulid Nabi ﷺ adalah pada saat Mahallul Qiyam (saat berdiri), ketika melantunkan: “Yaa Nabi salam ‘alaika, Yaa Rasul salam ‘alaika.”

Di antara bait-bait tersebut adalah momentum yang terbaik kita berdoa memohon kepada Allah SWT. atas segala doa dan hajat kita.

Maka perbanyak doa disela-sela membaca shalawat : “Yaa Nabi salam ‘alaika, Yaa Rasul salam ‘alaika” secara bersama-sama. Jadi di antara bait-bait tersebut seyogyanya kita berdoa. Insya Allah Mustajabah.

Yang tidak kalah pentingnya juga, adalah kita menghadirkan orang-orang yang kita cintai, seperti sanak keluarga, sahabat dan kerabat yang kita kehendaki ketika itu. Hadirkan dengan perasaan kita, bahwa mereka ikut hadir (bil ghaib) dalam pelaksanaan Maulid Nabi ﷺ. Insya Allah rahmat, berkah dan syafaatNya akan meliputi kepada mereka semua, yang walaupun secara lahiriah mereka tidak turut serta hadir.

Itulah salah satu kebesaranNya dan kasih sayangNya kepada umat Baginda Nabi ﷺ yang merupakan tetesan-tetesan air ar-Rahmah dari samudera rahmat Ilahi.

Di dalam pelaksanaan pembacaan Maulid Nabi ﷺ, seyogyanya kita mempertautkan hati kita dengan Baginda Nabi ﷺ. Bagi yang pernah berziarah ke makam Beliau ﷺ di Madinah al-Munawwarah, mungkin bisa kembali mengingat-ingatnya, seakan-akan membaca Maulid Risalah Baginda Nabi ﷺ di hadapan makam Beliau ﷺ yang mulia.

Bagi yang belum diberi rizki ziarah ke makam Nabi ﷺ, maka cukup membayangkan kehadiran Nabi ﷺ. Paling tidak kita merasa dilihat dan didengar oleh Baginda Nabi ﷺ. Sehingga akan semakin meningkatkan nilai dan kualitas dari Maulid Nabi ﷺ tersebut. Insya Allah dapat dirasakan kemanfaatannya, bukan hanya sekedar hadir duduk, doa, aamiin, makan, lalu bubar, sedangkan hati sanubari masih tetap kotor penuh karat dengan penyakit-penyakit lahiriah dan batiniah.

4. Maulid Nabi ﷺ Sebagai Ajang Memperbaiki Diri

Maulid Nabi ﷺadalah salah satu ajang yang sangat sakral untuk mengembalikan jati diri kita sebagai hamba Allah dan sebagai umat Baginda Nabi ﷺ. Oleh karenanya seyogyanya kita bisa memperhatikan dengan seksama arti, makna atau terjemahan dari bacaan Maulid Nabi ﷺ yang dibaca. Hal ini sungguh sangat bermanfaat guna meningkatkan kualitas hati kita menuju derajat ihsan di sisi Allah dan RasulNya.

Inilah salah satu sirr (rahasia) dari pelaksanaan Maulid Nabi ﷺ. Sehingga ketika kembali dari acara Maulid Nabi ﷺ itu, hati kita semakin bercahaya, insya Allah. Hati sanubari merasuk menjalar ke seluruh relung anggota tubuh kita, mengikis habis segala karat penyakit-penyakit lahir maupun batin. Dan semakin bertambah keimanan dan kecintaan kita kepada Allah dan RasulNya, sehingga buahnya menjadikan kita semakin ta’at akan melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya.

Wallahu a’lam, semoga barokah dan manfaat bagi kita semua, aamiin.

Sumber : Pustaka Pejaten

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s