Mutiara Habib Umar Bin Hafidz

“Sebagaimana engkau membersihkan wajahmu agar indah dipandang orang, maka bersihkan pula hatimu agar indah dipandang Allah.”

Habib Umar bin Hafidz

“Semua persahabatan yang terbina di muka bumi ini akan menjadi permusuhan di hari akhirat kecuali persahabatan yang dibina dengan ketaqwaan.”

Habib Umar bin Hafidz

“Syukuri apa yang kau miliki. Jangan iri dengan apa yang orang lain miliki, maka Allah SWT akan memberimu apa yang belum kau miliki.”

Habib Umar bin Hafidz

“Ada manusia yang amalnya seperti gunung di dunia namun di akhirat umpama debu yang berterbangan.”

Habib Umar bin Hafidz

“Menjaga perasaan seorang muslim adalah ibadah. Menyakiti hati seorang muslim dosanya lebih besar dari menghancurkan ka’bah. Siapa saja yang membuat senang hati seorang muslim, maka Allah akan membuatnya senang kelak di hari akhir.”

Habib Umar bin Hafidz

“Orang yang tinggi akhlaknya, walaupun rendah ilmunya lebih mulia dari orang yang banyak ilmunya tapi kurang akhlaknya.”

habib umar bin Hafidz

“Bila aku kecewa pada mereka yang banyak menyakitiku, aku teringat pada Rasulullah yang senantiasa memaafkan semua orang yang menyakiti beliau. Shallallahu alaihi wa sallam.”

Habib Umar bin Hafidz

“Suatu saat kau akan dapati sesuatu yang kau pinta dari Allah sejak lama, mungkin sejak masa kecilmu yang bahkan kau sudah lupakan itu, tapi Allah tak akan melupakannya.”

Habib Umar bin Hafidz

“Jika kaulihat seseorang jauh dari Tuhannya, jangan kauejek dia. Allah lebih dekat kepada pendosa ketimbang orang-orang yang sombong.”

Habib Umar bin Hafidz

“Jika kamu ingin untuk berada dekat dengan Nabi Muhammad, maka kamu perlu untuk bangun malam dan melaksanakan Tahajjud.”

Habib Umar bin Hafidz

“Bila aku merasa harus membalas kejahatan orang terhadapku, aku teringat Rasulullah ketika beliau dilempari batu, dipukul, dan diusir dari Thoif, maka beliau hanya berdoa kebaikan dan hidayah untuk seluruh kampung tersebut, shalallahu alaihi wa sallam.”

Habib Umar bin Hafidz

“Ramai wanita yang meniru wanita-wanita di TV, sehinggakan mereka tidak kenal lagi siapa Sayyidatina Fatimah Binti Rasulullah SAW.”

Habib Umar bin Hafidz

“Sungguh celaka la orang orang yang tidak melihat wajahnya Nabi Muhammad di akhirat kelak,iaitu orang orang yang mengagungkan para pemain bola sepak dan para artis lebih dari mengagungkan Rasulullah Saw dan para sahabat r.a.”

Habib Umar bin Hafidz

“Layanlah orang tuamu seperti Raja, maka rezekimu juga akan menjadi seperti Raja.”

Habib Umar bin Hafidz

“Jika jernih keadaan seorang mukmin, maka dia tak akan sabar untuk zikir kepada Allah.”

Habib Umar bin Hafidz

“Orang yang selalu mempunyai hubungan dengan Allah , maka Allah akan penuhi hatinya dengan rahmat dan ketenangan di setiap waktu.”

Habib Umar bin Hafidz

“Didiklah mata hati supaya jangan memandang hina pada orang lain walaupun dengan ahli maksiat.”

Habib Umar bin Hafidz

“Seandainya Allah perlihatkan pahala kesabaran, pasti ramai manusia yang berlumba lumba mendekati ujian.”

Habib Umar bin Hafidz

“Jangan sibuk dengan hal orang lain. Jaga lah hati kamu. Biarkan hati kamu senantiasa bersujud kepada Allah.”

Habib Umar bin Hafidz

“Wahai kamu semua yang mengharapkan pandangan daripada Allah, berselawatlah kepada Rasulullah Saw.”

💖 Habib Umar bin Hafidz💖

۞ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞

۞ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞

۞ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞

MALAM NISHFU SYA’BAN

Setiap malam nishfu Sya’ban, kaum Muslimin di Indonesia meramaikannya dengan beragam tradisi, seperti selamatan bersama, yang disebut dengan istilah ruwahan, menunaikan shalat sunnah baik secara berjamaah maupun sendirian, membaca surat Yasin dan diakhiri dengan doa. Adakah hadits shahih yang dapat dijadikan hujjah dalam menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan aneka ragam amal shaleh? Mengingat kaum Salafi-Wahabi membid’ahkan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan aneka ragam ibadah.

Jawab: Bulan Sya’ban termasuk salah satu bulan yang agung dalam pandangan syara’. Rasulullah ﷺ memuliakan bulan Sya’ban dengan menambah aktifitas ibadah. Sehingga menambah ibadah pada bulan Sya’ban sangat dianjurkan sebagaimana diterangkan dalam hadits shahih. Apabila pada hari-hari bulan Sya’ban dianjurkan meningkatkan aktifitas ibadah dan kebajikan, maka pada malam nishfu Sya’ban lebih dianjurkan lagi karena terdapat banyak hadits yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban melebihi hari-hari yang lain pada bulan yang sama. Hadits-hadits tersebut diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, Mu’adz bin Jabal, Abu Hurairah, Abu Tsa’labah, Auf bin Malik, Abu Bakar al-Shiddiq, Abu Musa dan Aisyah رضي الله عنهم.

Hadits Pertama

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنه عَنْ رَسُوْلِ اللهُِ ﷺ قَالَ : يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلىَ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلاَّ لاِثْنَيْنِ مُشَاحِنٍ وَقَاتِلِ نَفْسٍ . أخرجه أحمد

“Dari Abdullah bin Amr رضي الله عنه, dari Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah subhanahu wa ta’ala melihat kepada makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu memberikan ampunan kepada hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yang tidak diampuninya, yaitu orang yang bermusuhan dan pembunuh orang.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad [2/176] dengan sanad yang lemah, sebagaimana dapat dilihat dalam al-Targhib wa al-Tarhib [3/284] dan Majma’ al-Zawaid [8/65]).

Hadits Kedua

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ ﷺَ قَالَ : يَطَّلِعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ . أخرجه ابن حبان في صحيحه والطبراني، وأبو نعيم في الحلية.

“Dari Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه, dari Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah subhanahu wa ta’ala melihat kepada makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu memberikan ampunan kepada seluruh makhluk-Nya kecuali kepada orang yang menyekutukan Allah atau orang yang bermusuhan.”

(HR. Ibn Hibban dalam Shahih-nya [12/481], al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [20/109] dan al-Mu’jam al-Ausath, dan Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya’ [5/195], semuanya dari jalur Makhul, dari Malik bin Yukhamir dari Mu’adz secara marfu’. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid [8/65], “Hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan al-Mu’jam al-Ausath, dan para perawinya dapat dipercaya”.

Malik bin Yukhamir seorang perawi tsiqah dan mukhadhram (generasi tabi’in yang mengikuti masa Jahiliyah), sedangkan Makhul pernah menjumpainya, sehingga hadits ini tidak mengalami keterputusan (inqitha’), sebagaimana asumsi sebagian kalangan. Kesimpulannya, Ibnu Hibban sangat tepat dalam menilai shahih hadits tersebut.

Hadits di atas juga diriwayatkan dari 3) jalur Abu Hurairah oleh al-Bazzar dalam Musnad-nya [2/436], 4) jalur Abu Tsa’labah al-Khusyani oleh al-Thabarani [Majma’ al-Zawaid 8/65] dan Ibnu Abi Ashim dalam al-Sunnah [1/223], 5) jalur Auf bin Malik oleh al-Bazzar [2/463], 6) jalur Abu Bakar al-Shiddiq oleh Ibnu Khuzaimah dalam al-Tauhid [no. 90] dan Ibnu Abi Ashim [no. 509], 7) jalur Abu Musa oleh Ibnu Majah [1/446] dan al-Lalaka’i [no. 763] dan 8) jalur Aisyah oleh Ahmad [6/238], al-Tirmidzi [3/107] dan Ibnu Majah [1/445].

Kesimpulan dari riwayat-riwayat tersebut adalah menetapkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban secara khusus, dan salah satu dari riwayat di atas telah dishahihkan oleh Ibnu Hibban. Bahkan al-Albani – ulama Salafi-Wahabi -, juga menilainya shahih dalam Silsilah al-Ahadits al-Shahihah [1144], dalam Shahih Sunan Ibn Majah [1/233] dan dalam ta’liq terhadap kitab al-Sunnah karya Ibnu Abi Ashim [no. 509, 510, 511 dan 512). Riwayat yang shahih ini, sekaligus menaikkan riwayat-riwayat lainnya yang dianggap dha’if menjadi hasan lighairihi sebagaimana telah menjadi ketetapan dalam ilmu hadits.

Oleh karena keutamaan malam Nishfu Sya’ban memiliki dasar yang sangat kuat, umat Islam sejak generasi salaf banyak yang menghidupkannya dengan aneka ragam ibadah seperti shalat, doa dan lain-lain. Syaikh Ibnu Taimiyah, ulama panutan utama kaum Salafi-Wahabi berkata dalam fatwanya:

وَقَدْ سُئِلَ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى عَنْ صَلاَةِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَأَجَابَ : إِذَا صَلَّى اْلإِنْسَانُ لَيْلَةَ النِّصْفِ وَحْدَهُ أَوْ فِيْ جَمَاعَةٍ خَاصَّةٍ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ طَوَائِفُ مِنَ السَّلَفِ فَهُوَ حَسَنٌ. وَقَالَ فِيْ مَوْضِعٍ آخَرَ : وَأَمَّا لَيْلَةُ النِّصْفِ فَقَدْ رُوِيَ فِيْ فَضْلِهَا أَحَادِيْثُ وَآَثاَرٌ وَنُقِلَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنَ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوْا يُصَلُّوْنَ فِيْهَا فَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِيْهَا وَحْدَهُ قَدْ تَقَدَّمَهُ فِيْهِ سَلَفٌ وَلَهُ فِيْهِ حُجَّةٌ فَلَا يُنْكَرُ مِثْلُ هَذَا.

“Ibnu Taimiyah ditanya tentang shalat malam Nishfu Sya’ban, maka ia menjawab: “Apabila seseorang menunaikan shalat pada malam Nishfu Sya’ban, sendirian atau bersama jamaah tertentu sebagaimana dikerjakan oleh banyak kelompok kaum salaf, maka hal itu baik.” Di tempat lain, Ibnu Taimiyah juga berkata: “Adapun malam Nishfu Sya’ban, telah diriwayatkan banyak hadits dan atsar tentang keutamaannya dan telah dikutip dari sekelompok kaum salaf bahwa mereka menunaikan shalat pada malam itu. Jadi shalat yang dilakukan oleh seseorang sendirinya pada malam tersebut, telah dilakukan sebelumnya oleh kaum salaf dan ia mempunya hujjah, oleh karena itu hal seperti ini tidak boleh diingkari.” (Majma’ Fatawa Ibni Taimiyah [3/131-132].

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali, salah seorang murid Ibnu Taimiyah, juga berkata dalam kitabnya Lathaif al-Ma’arif sebagai berikut:

وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ التَّابِعُوْنَ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ يُعَظِّمُوْنَهَا وَيَجْتَهِدُوْنَ فِيْهَا فِي الْعِبَادَةِ، وَكَانَ خَالِدُ بْنِ مَعْدَانَ وَلُقْمَانُ بْنِ عَامِرٍ وَغَيْرُهُمَا مِنْ تَابِعِي الشَّامِ يَقُوْمُوْنَ فِي الْمَسْجِدِ لَيْلَةَ النِّصْفِ، وَوَافَقَهُمُ اْلإِمَامُ إِسْحَاقُ ابْنُ رَاَهَوْيه عَلىَ ذَلِكَ، وَقَالَ فِيْ قِيَامِهَا فِي الْمَسَاجِدِ جَمَاعَةً : لَيْسَ ذَلِكَ بِبِدْعَةٍ . انتهى باختصار وتصرف .

“Malam Nishfu Sya’ban, kaum Tabi’in dari penduduk Syam mengagungkannya dan bersungguh-sungguh menunaikan ibadah pada malam tersebut. Khalid bin Ma’dan, Luqman bin Amir dan lain-lain dari kalangan tabi’in Syam mendirikan shalat di dalam Masjid pada malam Nishfu Sya’ban. Perbuatan mereka disetujui oleh al-Imam Ishaq Ibnu Rahawaih. Ibnu Rahawaih berkata mengenai shalat sunnah pada malam Nishfu Sya’ban di Masjid-masjid secara berjamaah: “Hal tersebut tidak termasuk bid’ah.” (al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif [h. 263] dengan disederhanakan).

Wal-hasil, keutamaan malam Nishfu Sya’ban memiliki dasar hadits-hadits yang shahih. Menghidupkan malam tersebut dengan aneka ragam ibadah sunnah telah dianjurkan oleh banyak ulama salaf, untuk mengharapkan rahmat Allah yang turun pada malam utama tersebut. Lebih-lebih malam Nishfu Sya’ban termasuk salah satu malam yang dipermudah terkabulnya doa. Al-Imam al-Syafi’i berkata dalam kitab al-Umm sebagai berikut:

قال الشَّافِعِيُّ وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كان يُقَالُ إنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ في خَمْسِ لَيَالٍ في لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ من رَجَبٍ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ من شَعْبَانَ

Al-Syafi’i berkata: “Telah sampai kepada kami bahwasanya selalu dikatakan bahwa permohonan akan dikabulkan dalam lima malam, yaitu malam Jum’at, malam hari raya idul adha, malam hari raya idul fitri, awal malam di bulan Rajab dan malam Nishfu Sya’ban.” (Al-Imam al-Syafi’i, al-Umm [1/231]).

Berdasarkan keterangan di atas, kita jumpai kaum Muslimin sejak masa-masa yang silam menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan aneka ragam ibadah dan kebajikan seperti bersedekah, mengerjakan shalat sunnah secara berjamaah, membaca surat Yasin dan diakhiri dengan doa kepada Allah سبحانه وتعالى. والله اعلم.

Assaalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Satu-satunya manusia yang bukan nabi, bukan pula Rasul, tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Qur’an adalah Lukman Al Hakim. Kenapa, tak lain, karena hidupnya penuh hikmah. Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hakikat hidup.

“Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran dan kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan ibadah, dan hilang pulalah ketulusan dan kebersihan hati. Padahal hanya dengan hati bersih manusia bisa menikmati lezatnya berdzikir.”

“Anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar dan menuntut ilmu. Dewasa kelak engkau akan memetik buahnya dan menikmatinya.”

“Anakku, ikutlah engkau pada orang-orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikut orang-orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan. Karena jenazah akan mengingatkan engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan nafsu duniamu.”

“Anakku, aku sudah pernah memikul batu-batu besar, aku juga sudah mengangkat besi-besi berat. Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya.”

“Anakku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan.”

“Anakku, aku sudah mengalami penderitaan dan bermacam kesusahan. Tetapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggung hutang.”

“Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para nabi. Kalimat itu adalah:

  1. Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik.
  2. Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu.
  3. Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu.
  4. Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu.
  5. Ingatlah Allah selalu.
  6. Ingatlah maut yang akan menjemputmu
  7. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain.
  8. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu.

NIKAH DAN SEDEKAH

SUATU HARI, MALAIKAT MAUT MENDATANGI NABI IBRAHIM A.S, LALU BERTANYA :

MALAIKAT :
“SIAPA ANAK MUDA YANG TADI MENDATANGIMU WAHAI IBRAHIM ?

NABI IBRAHIM :

ITU TADI SAHABATKU & SEKALIGUS MURIDKU.

MALAIKAT :

ADA APA DIA DATANG MENEMUIMU..?

NABI IBRAHIM :

DIA INGIN MENYAMPAIKAN AKAN MENIKAH BESOK PAGI.

MALAIKAT:

WAHAI IBRAHIM, SAYANG SEKALI, UMUR ANAK ITU TIDAK AKAN SAMPAI BESOK PAGI.

HABIS BERKATA SEPERTI ITU, MALAIKAT MAUT PUN PERGI MENINGGALKAN NABI IBRAHIM.

HAMPIR SAJA NABI IBRAHIM A.S TERGERAK UNTUK MEMBERITAHU ANAK MUDA TERSEBUT, GUNA MENYEGERAKAN PERNIKAHANNYA MALAM ITU JUGA, DAN MEMBERITAHU TENTANG KEMATIANNYA.

TETAPI LANGKAHNYA TERHENTI.

NABI IBRAHIM A.S MEMILIH KEMATIAN TETAP MENJADI RAHSIA ALLAH..

ESOK PAGINYA, NABI IBRAHIM A.S TERNYATA MELIHAT & MENYAKSIKAN ANAK MUDA TERSEBUT MELANGSUNGKAN PERNIKAHANNYA.

HARIPUN BERGANTI, MINGGU BERGANTI, BULAN BERGANTI, & TAHUN PUN BERGANTI TAHUN,

NABI IBRAHIM A.S MALAH MELIHAT ANAK MUDA INI PANJANG UMURNYA SEHINGGA USIANYA 70 TAHUN..

NABI IBRAHIM A.S PUN BERTANYA KEPADA MALAIKAT MAUT,

KENAPA MALAIKAT BERBOHONG TEMPOH HARI,

MENYAMPAIKAN JIKA ANAK MUDA ITU AKAN MATI BESOK PAGI,

TERNYATA TIDAK MATI, BAHKAN UMURNYA PANJANG..

MALAIKAT MAUT :

DIRINYA MEMANG AKAN MENCABUT NYAWA ANAK MUDA TERSEBUT, KERANA ALLAH MENAHANNYA,

DAN KENAPA ALLAH SWT MENAHAN TANGANKU UNTUK TIDAK MENCABUT NYAWA ANAK MUDA ITU (DAHULU)…?

KETAHUILAH WAHAI IBRAHIM,

BAHAWA DI MALAM MENJELANG PERNIKAHANNYA,

ANAK MUDA TERSEBUT MENYEDEKAHKAN 7 DIRHAM UNTUK ANAK2 YATIM, LALU ANAK2 YATIM MENDOAKAN NYA.

ALLAH MENGGANTI SETIAP DIRHAM 10 TH
DAN AKU DI PERINTAH KAN OLEH ALLAH. UNTUK TDK MENCABUT NYAWA ANAK MUDA TERSEBUT SBLM USIA NYA 70 TH.

DAN INILAH YANG MEMBUAT ALLAH MEMUTUSKAN UNTUK MEMANJANGKAN UMUR ANAK MUDA TERSEBUT,

HINGGA ENGKAU MASIH MELIHATNYA HIDUP..

KEMATIAN MEMANG DI TANGAN ALLAH SWT,

JUSTRU ITU, MEMAJUKAN DAN MEMUNDURKAN KEMATIAN ADALAH HAK ALLAH.

DAN ALLAH MEMBERITAHU LEWAT KALAM RASULNYA, MUHAMMAD SAW BAHWA SEDEKAH ITU BISA MEMANJANGKAN UMUR

SAUDARAKU, MARILAH KITA PERBANYAK BERSEDEKAH

MARI KITA AWALI SEDEKAH KITA INI, DENGAN MENGIRIMKAN KISAH YG BERMANFAAT INI, BAIK KEPADA KELUARGA, SAUDARA & HANDAI TAULAN KITA…SEMOGA YG BILANG AAMIIN DIBERI REZEKI YG MELIMPAH BESOK PAGI AAMIIN.

SELAMAT BERSEDEKAH DENGAN TULISAN INI,

SEMOGA DICATAT SEBAGAI IBADAH…

AAMIIN…

Dalam satu tahun Allah Swt menjadikan 12 bulan, baik menggunakan perhitungan rembulan maupun matahari.

Adapun bulan yang mengikuti perhitungan rembulan yaitu:

  1. Muharrom (محرم): 30 hari.
  2. Shofar ( صفر الخير): 30 hari.
  3. Robi’ul Awwal (ربيع الأول): 30 hari.
  4. Robi’ul Tsanii (ربيع الثاني): 29 hari.
  5. Jumadal Ulaa (جمادى الأولى): 30 hari.
  6. Jumadal Akhiiroh (جمادى الأخيرة): 29 hari.
  7. Rojab (رجب الأصم): 29 hari.
  8. Sya’ban (شعبان): 30 hari.
  9. Romadlon (رمضان): 29 hari.
  10. Syawwal (شوال): 30 hari.
  11. Dzul Qo’dah (ذو القعدة): 30 hari.
  12. Dzul Hijjah (ذو الحجة): 29 hari.

Jika kita hitung, maka bulan yang mempunyai 29 hari ada lima dan bulan yang mempunyai 30 hari ada tujuh: (29X5)+(30X7)=145+210= 355 hari.

Begitu pula bulan yang mengikuti peredaran matahari ada dua belas yaitu

  1. Januari, dalam bahasa arab dinamakan Kaanuun Al-Tsaani (كانون الثاني): 31 Hari.
  2. Februari yang dinamakan Syubaath (شباط): 28 Hari.
  3. Maret yang dinamakan Aadzaar (آذار): 31 Hari.
  4. April yang dinamakan Naysaan (نيسان): 30 Hari.
  5. Mei yang dinamakan Ayyaar (أيار): 31 Hari.
  6. Juni yang dinamakan Haziiroon (حزيران): 30 Hari.
  7. Juli yang dinamakan Tammuuz (تموز): 31 Hari.
  8. Agustus yang dinamakan Aab (آب): 31 Hari.
  9. September yang dinamakan Ayluul (أيلول): 30 Hari.
  10. Oktober yang dinamakan Tasyrin Al-Awwal (تشرين الأول): 31 Hari.
  11. November yang dinamakan Tasyriin Al-Tsaani (تشرين الثاني): 30 Hari.
  12. Desember yang dinamakan Kaanuun Al-Awwal (كانون الأول): 31 Hari.

Jika kita hitung, maka jumlah bulan yang mempunyai 31 hari ada tujuh, bulan yang mempunyai 30 hari ada empat, dan bulan yang mempunyai 28 hari ada satu: (31X7)+(30X4)+28=217+120+28= 365 hari.

Berarti antara setiap satu tahun rembulan dan tahun matahari mempunyai selisih sepuluh hari (365 – 355=10). Jika hal ini berulang-ulang selama tiga puluh tiga tahun maka mempunyai selisih 330 hari.

Setiap empat tahun sekali ada satu tahun kabisat yaitu tahun yang habis dibagi empat yang berarti jumlah hari pada bulan februari ada 29 hari.

Jika hal ini berulang-ulang selama tiga puluh tiga tahun maka mempunyai selisih 8 hari (33:4=8).

Maka dalam waktu tiga puluh tiga tahun ada jumlah selisih 338 hari yaitu 330+8 (sama dengan sebelas bulan delapan hari apabila satu bulan dibuat rata-rata tiga puluh hari atau apabila dibulatkan menjadi satu tahun).

Karena itu, setiap 33 tahun matahari sama dengan 33 tahun sebelas bulan delapan hari atau jika dibulatkan sama dengan 34 tahun rembulan. Inilah yang dinamakan siklus tiga puluh tiga tahun.

Dan apabila siklus ini berulang-ulang sampai tiga kali maka akan ada selisih tiga tahun, dan kita peringati dengan adanya wirid setelah sholat dengan membaca:
سبحان الله

33 kali,

الحمد لله

33 kali, dan

الله أكبر

Juga 33 kali.

Setiap 33 butir subhah (biji tasbih), maka diselingi dengan adanya satu butir subhah yang berbeda.

Akan tetapi siklus itu tidak akan sempurna kecuali setelah menambahkan satu tahun menjadi seratus atau satu abad, hal ini diperingati dengan menambahkan kalimat

الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد يحيي ويميت وهو على كل شيء قدير لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم.

Kalimat itu sebagai penyempurna seratus.

Apabila dalam satu abad terdapat tiga siklus, maka dalam tiga abad terdapat Sembilan siklus selisih tahun matahari dan rembulan. Hal itu diisyaratkan oleh al-Qur’an:

ولبثوا في كهفهم ثلاثمائة سنين وازدادوا تسعا

Yaitu waktu tinggal Ashabul Kahfi di gua selama tiga ratus tahun perhitungan matahari dan ditambah sembilan tahun (menjadi tiga ratus sembilan tahun) perhitungan rembulan.

Dalam hal ini, pembacaan kalimat tahlil:

لا إله إلا الله

Di musholla Al-Anwar setelah sholat shubuh berjumlah tiga ratus kali, salah satunya untuk memperingati siklus tersebut!

Dan yang pokok untuk perhitungan manusia dan hajji adalah perhitungan tahun rembulan. seperti diisyaratkan!

يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج

Karena itu, kita kembali pada pembahasan tahun rembulan.

Allah Swt menjadikan tahun berjumlah dua belas bulan, dan diantara kedua belas bulan itu, terdapat empat bulan yang mulia yaitu Rojab, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah dan Muharram. Ketetapan ini sudah sejak dijadikannya langit dan bumi.

Hal ini diisyaratkan pada kalimat tauhid:

لا إله إلا الله

Jumlah hurufnya ada dua belas:

لا (lam, alif).
إله (Hamzah, lam, ha’).
إلا (hamzah, lam, alif).
الله (alif, lam, lam, ha’).

Keempat bulan yang mulia itu diisyaratkan dengan lafad الله (alif, lam, lam, ha’) yang berjumlah empat huruf. Hal itu disebutkan dalam Al-Qur’an :

إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السموات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم

Setelah terutusnya Rosululloh, kemulyaan itu bukan hanya pada empat bulan tersebut. Akan tetapi, ada tambahan tiga bulan, menjadi tujuh bulan.

Dan hal ini diisyratkan dengan tambahan kata:

إلا (hamzah, lam, alif)

Yang merubah dari negatif (لا إله) menjadi positif (إلا الله) yang berjumlah tujuh huruf.

Ketujuh bulan mulya itu yaitu Rojab (Syahrullooh), Sya’ban (Syahru Rosulillaah), Romadlon (Syahru Ummatir Rosul), Syawwal, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah (Asyhurun Ma’luumat) dan Muharram.

Sehingga dalam bulan-bulan ini ditekankan adanya puasa. 10 Rajab, 15 Sya’ban, Romadlon terutama sepuluh hari terakhir, Syawwal enam hari, Dzul Qo’dah satu hari untuk orang yang akan hajji agar menjadi mabrur, Dzul Hijjah 8 dan 9 (untuk yang tidak berhajji) dan Muharrom 9 dan 10. Sehingga dalam satu tahun berpuasa sunnah tidak kurang dari dua belas hari.

Dalam satu tahun qomariyyah berjumlah 355 hari, dan diantara jumlah itu ada lima hari yang diharamkan berpuasa pada hari itu yaitu Hari raya idul Fithri Satu Syawwal, Hari raya idul Adlha 10 Dzul Hijjah dan Hari-hari tasyriq 11, 12 dan 13 Dzul Hijjah. Dan jumlah hari dalam satu tahun yang boleh ada puasanya ada 350 hari.

Apabila dalam Romadlon berjumlah 29 dan ditambah puasa enam hari Syawwal atau enam hari selain Syawwal yang telah disebut, maka jumlah puasa dalam satu tahun ada minimal 35 hari.

Karena rahmat Allah Swt yang begitu besar, satu Amal kebaikan akan dilipat gandakan minimal 10, sehingga seakan-akan telah berpuasa setahun penuh 350 hari, yaitu jumlah hari yang diperbolehkan ada puasa pada hari itu.

Dalam suatu hadist, Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صام رمضان وأتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر “. رواه مسلم وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه وقد فسر ذلك النبي صلى الله عليه وسلم بقوله : “من صام ستة أيام بعد الفطر كان تمام السنة :(من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها ) . وفي رواية : ” جعل الله الحسنة بعشر أمثالها فشهر بعشرة أشهر وصيام ستة أيام تمام السنة” النسائي وابن ماجة وهو في صحيح الترغيب والترهيب ورواه ابن خزيمة بلفظ : “صيام شهر رمضان بعشرة أمثالها وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة.

Inilah sedikit penjelasan dari Syaikhuna Maimoen Zubair.

Dalam satu tahun Allah Swt menjadikan 12 bulan, baik menggunakan perhitungan rembulan maupun matahari.

Adapun bulan yang mengikuti perhitungan rembulan yaitu:

  1. Muharrom (محرم): 30 hari.
  2. Shofar ( صفر الخير): 30 hari.
  3. Robi’ul Awwal (ربيع الأول): 30 hari.
  4. Robi’ul Tsanii (ربيع الثاني): 29 hari.
  5. Jumadal Ulaa (جمادى الأولى): 30 hari.
  6. Jumadal Akhiiroh (جمادى الأخيرة): 29 hari.
  7. Rojab (رجب الأصم): 29 hari.
  8. Sya’ban (شعبان): 30 hari.
  9. Romadlon (رمضان): 29 hari.
  10. Syawwal (شوال): 30 hari.
  11. Dzul Qo’dah (ذو القعدة): 30 hari.
  12. Dzul Hijjah (ذو الحجة): 29 hari.

Jika kita hitung, maka bulan yang mempunyai 29 hari ada lima dan bulan yang mempunyai 30 hari ada tujuh: (29X5)+(30X7)=145+210= 355 hari.

Begitu pula bulan yang mengikuti peredaran matahari ada dua belas yaitu

  1. Januari, dalam bahasa arab dinamakan Kaanuun Al-Tsaani (كانون الثاني): 31 Hari.
  2. Februari yang dinamakan Syubaath (شباط): 28 Hari.
  3. Maret yang dinamakan Aadzaar (آذار): 31 Hari.
  4. April yang dinamakan Naysaan (نيسان): 30 Hari.
  5. Mei yang dinamakan Ayyaar (أيار): 31 Hari.
  6. Juni yang dinamakan Haziiroon (حزيران): 30 Hari.
  7. Juli yang dinamakan Tammuuz (تموز): 31 Hari.
  8. Agustus yang dinamakan Aab (آب): 31 Hari.
  9. September yang dinamakan Ayluul (أيلول): 30 Hari.
  10. Oktober yang dinamakan Tasyrin Al-Awwal (تشرين الأول): 31 Hari.
  11. November yang dinamakan Tasyriin Al-Tsaani (تشرين الثاني): 30 Hari.
  12. Desember yang dinamakan Kaanuun Al-Awwal (كانون الأول): 31 Hari.

Jika kita hitung, maka jumlah bulan yang mempunyai 31 hari ada tujuh, bulan yang mempunyai 30 hari ada empat, dan bulan yang mempunyai 28 hari ada satu: (31X7)+(30X4)+28=217+120+28= 365 hari.

Berarti antara setiap satu tahun rembulan dan tahun matahari mempunyai selisih sepuluh hari (365 – 355=10). Jika hal ini berulang-ulang selama tiga puluh tiga tahun maka mempunyai selisih 330 hari.

Setiap empat tahun sekali ada satu tahun kabisat yaitu tahun yang habis dibagi empat yang berarti jumlah hari pada bulan februari ada 29 hari.

Jika hal ini berulang-ulang selama tiga puluh tiga tahun maka mempunyai selisih 8 hari (33:4=8).

Maka dalam waktu tiga puluh tiga tahun ada jumlah selisih 338 hari yaitu 330+8 (sama dengan sebelas bulan delapan hari apabila satu bulan dibuat rata-rata tiga puluh hari atau apabila dibulatkan menjadi satu tahun).

Karena itu, setiap 33 tahun matahari sama dengan 33 tahun sebelas bulan delapan hari atau jika dibulatkan sama dengan 34 tahun rembulan. Inilah yang dinamakan siklus tiga puluh tiga tahun.

Dan apabila siklus ini berulang-ulang sampai tiga kali maka akan ada selisih tiga tahun, dan kita peringati dengan adanya wirid setelah sholat dengan membaca:
سبحان الله

33 kali,

الحمد لله

33 kali, dan

الله أكبر

Juga 33 kali.

Setiap 33 butir subhah (biji tasbih), maka diselingi dengan adanya satu butir subhah yang berbeda.

Akan tetapi siklus itu tidak akan sempurna kecuali setelah menambahkan satu tahun menjadi seratus atau satu abad, hal ini diperingati dengan menambahkan kalimat

الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد يحيي ويميت وهو على كل شيء قدير لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم.

Kalimat itu sebagai penyempurna seratus.

Apabila dalam satu abad terdapat tiga siklus, maka dalam tiga abad terdapat Sembilan siklus selisih tahun matahari dan rembulan. Hal itu diisyaratkan oleh al-Qur’an:

ولبثوا في كهفهم ثلاثمائة سنين وازدادوا تسعا

Yaitu waktu tinggal Ashabul Kahfi di gua selama tiga ratus tahun perhitungan matahari dan ditambah sembilan tahun (menjadi tiga ratus sembilan tahun) perhitungan rembulan.

Dalam hal ini, pembacaan kalimat tahlil:

لا إله إلا الله

Di musholla Al-Anwar setelah sholat shubuh berjumlah tiga ratus kali, salah satunya untuk memperingati siklus tersebut!

Dan yang pokok untuk perhitungan manusia dan hajji adalah perhitungan tahun rembulan. seperti diisyaratkan!

يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج

Karena itu, kita kembali pada pembahasan tahun rembulan.

Allah Swt menjadikan tahun berjumlah dua belas bulan, dan diantara kedua belas bulan itu, terdapat empat bulan yang mulia yaitu Rojab, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah dan Muharram. Ketetapan ini sudah sejak dijadikannya langit dan bumi.

Hal ini diisyaratkan pada kalimat tauhid:

لا إله إلا الله

Jumlah hurufnya ada dua belas:

لا (lam, alif).
إله (Hamzah, lam, ha’).
إلا (hamzah, lam, alif).
الله (alif, lam, lam, ha’).

Keempat bulan yang mulia itu diisyaratkan dengan lafad الله (alif, lam, lam, ha’) yang berjumlah empat huruf. Hal itu disebutkan dalam Al-Qur’an :

إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السموات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم

Setelah terutusnya Rosululloh, kemulyaan itu bukan hanya pada empat bulan tersebut. Akan tetapi, ada tambahan tiga bulan, menjadi tujuh bulan.

Dan hal ini diisyratkan dengan tambahan kata:

إلا (hamzah, lam, alif)

Yang merubah dari negatif (لا إله) menjadi positif (إلا الله) yang berjumlah tujuh huruf.

Ketujuh bulan mulya itu yaitu Rojab (Syahrullooh), Sya’ban (Syahru Rosulillaah), Romadlon (Syahru Ummatir Rosul), Syawwal, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah (Asyhurun Ma’luumat) dan Muharram.

Sehingga dalam bulan-bulan ini ditekankan adanya puasa. 10 Rajab, 15 Sya’ban, Romadlon terutama sepuluh hari terakhir, Syawwal enam hari, Dzul Qo’dah satu hari untuk orang yang akan hajji agar menjadi mabrur, Dzul Hijjah 8 dan 9 (untuk yang tidak berhajji) dan Muharrom 9 dan 10. Sehingga dalam satu tahun berpuasa sunnah tidak kurang dari dua belas hari.

Dalam satu tahun qomariyyah berjumlah 355 hari, dan diantara jumlah itu ada lima hari yang diharamkan berpuasa pada hari itu yaitu Hari raya idul Fithri Satu Syawwal, Hari raya idul Adlha 10 Dzul Hijjah dan Hari-hari tasyriq 11, 12 dan 13 Dzul Hijjah. Dan jumlah hari dalam satu tahun yang boleh ada puasanya ada 350 hari.

Apabila dalam Romadlon berjumlah 29 dan ditambah puasa enam hari Syawwal atau enam hari selain Syawwal yang telah disebut, maka jumlah puasa dalam satu tahun ada minimal 35 hari.

Karena rahmat Allah Swt yang begitu besar, satu Amal kebaikan akan dilipat gandakan minimal 10, sehingga seakan-akan telah berpuasa setahun penuh 350 hari, yaitu jumlah hari yang diperbolehkan ada puasa pada hari itu.

Dalam suatu hadist, Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صام رمضان وأتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر “. رواه مسلم وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه وقد فسر ذلك النبي صلى الله عليه وسلم بقوله : “من صام ستة أيام بعد الفطر كان تمام السنة :(من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها ) . وفي رواية : ” جعل الله الحسنة بعشر أمثالها فشهر بعشرة أشهر وصيام ستة أيام تمام السنة” النسائي وابن ماجة وهو في صحيح الترغيب والترهيب ورواه ابن خزيمة بلفظ : “صيام شهر رمضان بعشرة أمثالها وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة.

Inilah sedikit penjelasan dari Syaikhuna Maimoen Zubair.

IBADAH HAJI SEBELUM TIDUR

Jika kamu merasa bersyukur 👏 atas segala Rahmat Allah,
jangan sungkan

Tunaikanlah ibadah haji sebelum tidur….

Ini sangat menarik, tolong luangkan 2 menit saja untuk membacanya.

suatu hari Rasulullah SAW pernah
bersabda kepada Ali ( R.A. ) :
Wahai Ali, lakukanlah 5 hal ini sebelum tidur…

◆ 1. Berikan sedekah 4000 Dinar, kemudian tidurlah.

◆2. Khatamkan Quran, lalu tidur.

◆3. Belilah surga, lalu tidurlah.

◆4. Perbaikilah hubungan dua orang yang tengah berselisih,
kemudian tidurlah.

◆5. Tunaikanlah satu kali haji,
lalu tidurlah.

Ali ( R.A. ) pun menjawab,
Ya Rasulallah !
Mana mungkin aku bisa melakukannya ?
Lalu nabi ( SAW ) menjawab :

◆4 kali membaca Al Fatihah adalah sama dengan sedekah 4,000 Dinar.

◆3 kali membaca surah Al Ikhlas sama nilainya dengan menhatamkan satu Al-Qur’an.

◆3 kali membaca Shalawat ( minimal membaca Sallalaho Alaihi Wa Salam ) adalah harga surga.

◆10 kali bacaan istighfar sama nilainya dengan menyambungkan silaturrahim dua orang yg berselisih.

◆4 kali membaca Subhanallah,
Alhamdulillah, Laa ilaaha ilallah, Allahu Akbar sama dengan menunaikan satu kali Haji.

★Lalu Ali (R.A.) pun berkata, Ya Rasulallah ( SAW )!
Kini aku akan menjalankan semua
nasehatmu ini sebelum tidur !

★Hanya butuh kurang dari lima menit untuk menjalankannya,
namun lihatlah semua kebaikan amalan tersebut!
Siapa tak ingin memperoleh semua kebajikan itu dalam buku catatan amal baiknya?

★untuk mengingatkan seseorang akan amalan ini, cara termudah adalah dengan menuliskan kesemua dzikir tersebut pada sehelai kertas, untuk dibaca sebelum tidur, dan tempelkan di dekat tempat tidur Anda, untuk dibaca 😊….
Dan tentu saja, dengan niat mengingat Allah ….

🌻Indahnya jika Anda mau berbagi tulisan ini ke sebanyak Muslim yang Anda kenal, karena jika atas usaha Anda seseorang menjalankan amalan2 ini, maka Anda pun akan menerima pahala dan kebaikannya …
In sya ALLAH.
Aamiin…YaRobbal ‘Aalamiin…

🌻Suratul Faatihah melindungi seseorang dari kemurkaan Allah

🌻 Surah Yasiin melindungi seseorang dari kehausan pada hari pengadilan.

🌻Suratul Waaqi’ah melindungi seseorang dari kefakiran dan kelaparan.

🌻Surah Al-Mulk melindungi manusia dari azab kubur.

🌻Surat Al-Kautsar melindungi seseorang dari kejahatan musuh.

🌻Surat Al-Kaafiruun melindungi dari kekafiran saat ajal menjemput.

🌻Surat Al-Ikhlaas melindungi seseorang dari kemunafikan.

🌻Surat Al-Falaq melindungi seseorang dari marabahaya.

🌻Surat An-Naas melindungi seseorang dari pikiran jahat.

🍁Seandainya seseorang mengindahkan amalan2 dalam pesan yang Anda kirimkan
ini dan mengamalkannya,
andapun akan meraih kebaikan karena telah menyampaikannya… 🍃

🌻Saran
Jangan tunggu nanti.
Kirimkan sekarang !
Semoga Allah melimpahkan kesuksesan untuk setiap orang yang telah mengamalkan dan menyampaikan pesan ini.
“Aamiin Yaa Robbal Aalamiin “
ALLAH KUASA, MAKHLUK TAK KUASA,
DUNIA SEMENTARA, AKHIRAT SELAMA-LAMANYA.

Copas grub WA

⚜ Mengejek Diri Sendiri ⚜

🍃🍂🌹🍃🍂🌹🍃🍂🌹🍃🍂🌹🍃🍂

🔰 Siapakah orang yang mengejek dirinya sendiri??

Ada orang-orang yang mengaku telah melakukan amal kebajikan, tapi pada dasarnya dia sedang mengejek dirinya sendiri.

🌺👌 Imam Ali Ridho as berkata:

💙👈 7 sesuatu tanpa diikuti sesuatu yang lain sama saja dengan ejekan:

1⃣ Orang yang beristighfar, namun hatinya tidak menyesal, sama saja dia sedang mengejek dirinya.

3⃣ Orang yang meminta Taufik pada Allah, namun tidak berusaha, sama saja dengan mengejek dirinya.

3⃣ Orang yang dalam meminta dengan kehati-hatian, namun dalam melakukan dosa tergesa-gesa, sama saja dengan mengejek dirinya.

4⃣ Orang yang meminta surga pada Allah, namun tidak bisa bersabar atas ujian, sama saja dengan mengejek dirinya.

5⃣ Orang yang berlindung pada Allah atas api neraka, namun tidak meninggalkan syahwat dunia, sama saja dengan mengejek dirinya.

6⃣ Orang yang mengingat Allah, namun untuk bertemu dengan-Nya tidak bersegera, sama saja dengan mengejek dirinya.

7⃣ Orang yang mengingat kematian, namun tidak mempersiapkan dirinya untuk itu, sama saja dengan mengejek dirinya.

📚 بحارالأنوار، جلد ۱۱ ، صفحه۳۵۶

t.me/tafsirhikmah
🍃🍂🌹🍃🍂🌹🍃🍂🌹🍃🍂🌹🍃🍂

PENYEBAB HILANGNYA BAROKAH
•┈┈┈┈•🌻•┈┈┈┈••┈┈┈┈•🌻•┈┈┈┈•
من أسباب قلة البركة في زماننا هذا إعراض الكثير منا عن كثرة
الصلاة على النبي ﷺ،
Sebab-sebab sedikitnya barokah di zaman kita ini adalah enggannya sebagian dari kita untuk memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW

لقد كانت الصلاة على النبي ﷺ سببًا لكثير من البركات والخيرات،
Dan sungguh bersholawat kepada Nabi Muhammad Adalah sumber turunnya barokah dan kebaikan.

فورد أن قرية في بلاد المغرب أصابها القحط والجفاف،
Dikisahkan ada sebuah desa di negara Maroko tertimpa paceklik dan kekeringan

فجاءت امرأة وجلست بجوار بئر قد غارت وقل ماؤها،
Maka datanglah perempuan duduk di sekitar sumur yang telah kering.

ودعت الله فإذا بالماء يفور،
Dan dia berdoa kepada Alloh, seketika itu terpancarlah air.

فجاءها الشيخ الجازولي رضي الله عنه، وسألها عما دعت به ربها.
Maka Syaikh Jazuli mendatanginya dan menanyakan perihal doa yang dia panjatkan.

فقالت: ما سألته إلا بالصلاة على النبي ﷺ،
Perempuan itu menjawab “Aku tidak memohon sesuatu pun kepada Alloh SWT kecuali dengan bersholawat kepada Nabi SAW.

جلست عند البئر تصلي على النبي ﷺ،
Perempuan itu duduk disamping sumur, kemudian bersholawat kepada Nabi SAW

فنظر إليها ربها بنظر الرحمة، واستجاب استسقاءها ودعاءها ففارت البئر بالماء ونجت القرية من الجفاف.
Maka Alloh melihat perempuan tersebut dengan pandangan rahmat, dan mengabulkan doanya, sehingga sumur itu memancarkan air, dan desa tersebut selamat dari kekeringan

وبسبب تلك الواقعة قام الشيخ الجازولي رضي الله عنه بجمع كتابه (دلائل الخيرات)
Dan kejadian tersebut adalah sebab utama mengapa Syaikh Jazuli mengarang kitabnya (Dalailul Khairot)

والذي انتشر انتشارًا واسعًا وعلم الناس في كافة أنحاء الأرض الصلاة على النبي ﷺ بكثير من الصيغ المباركة،
Yang mana kitab tersebut tersebar keseluruh penjuru dunia, dan mengajarkan mereka jenis-jenis sholawat yang sangat barokah.

ولهجت به ألسنتهم بالصلاة على النبي ﷺ، فنور الله قلوبهم بذلك، وخفف الله عليهم أعباء الدنيا ومشكلاتها، وهان عليهم أمرها، وكان همهم الأكبر الآخرة، ورفقة النبي ﷺ .
Dan kemudian lisan-lisan mereka menjadi terbiasa untuk bersholawat kepada Nabi SAW, dan sebab itulah Alloh SWT menyinari hati mereka, dan meringankan kepada mereka persoalan-persoalan hidup, dan diringankan pula urusan mereka, dan keinginan terbesar mereka adalah kebahagian di akherat, dan berdampingan dengan Baginda Nabi Muhammad SAW.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا ومولانا وقرة أعيوننا ونور قلوبنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم عدد خلقك ورضا نفسك وزينة عرشك ومداد كلماتك

🎁KEKAYAAN SEJATI

Ada seorang yg miskin bertanya pada Sang Guru Bijak,

“Mengapa aku menjadi orang yg sangat miskin dan selalu mengalami kesulitan hidup ?”

Sang Guru menjawab,
“Karena engkau tidak pernah berusaha untuk memberi pada orang lain.”

“Tapi saya tidak punya apapun untuk di berikan pada orang lain, jawab si miskin.

Sang Guru Bijak berkata :
“Sebenarnya engkau masih punya banyak untuk engkau berikan pada orang lain.”

“Apakah itu, guru?”

Sang guru mejawab:h

  1. Dengan Mulut yg engkau punya, engkau bisa berikan senyuman & pujian.
  2. Dengan Mata ygh engkau punya, engkau bisa memberikan tatapan yg lembut.
  3. Dengan Telinga yg engkau punya, engkau bisa memberikan perhatian untuk mendengar keluh kesah orang di sekitar mu.
  4. Dengan Wajah yg engkau punya, engkau bisa memberikan keramahan.
  5. Dengan Tangan yg engkau punya, engkau bisa memberikan bantuan & pertolongan pada orang lain yg membutuhkan & masih banyak lagi.

Jadi sesungguhnya kamu bukanlah miskin, hanya saja engkau tidak pernah mau memberi pada orang lain.

Itulah yg menyebabkan orang lain juga tidak pernah mau memberikan apapun pada dirimu.

Engkau akan terus seperti ini jika engkau tidak mau memberi & berbagi pada orang lain & siapapun.

Pulanglah… & Berbagilah…. pada orang lain dari apa yg masih engkau punya,
agar orang lain juga mau berbagi denganmu.
Memberi tidak di tentukan oleh seberapa besar atau kecil, tapi berdasarkan…. kebutuhan.

Ada yg butuh didengarkan
Ada yg butuh dikuatkan
Ada yg butuh Diperhatikan
Ada yg butuh Disemangati
Ada yg butuh diberi Pengharapan

Sahabatku, ….

SELALU LAKUKAN YANG TERBAIK,

Apa yang kita TANAM sekarang Akan kita TUNAI di kemudian Hari.

Ketika kita menanam PADI mungkin rumput ikut Tumbuh, ketika kita menanam Rumput tidak mungkin Padi ikut Tumbuh
Jadi,
Ketika kita melakukan KEBAIKAN mungkin hal buruk bisa terjadi
….TAPI….,
Ketika kita melakukan KEBURUKAN tidak mungkin muncul KEBAIKAN.

MARI, TETAPLAH BERBUAT KEBAIKAN SEKECIL APAPUN YANG BISA KITA LAKUKAN walaupun hanya berupa doa / senyuman / sapaan ringan yg baik.
*Semoga bermanfaat 🙏🙏🙏