Maaf tulisan kali ini agak panjang tapi mohon bisa disempatkan membaca dengan perlahan dan seksama agar kita sama-sama mendapatkan keberkahan dan manfaatnya..🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Assalamu’alaikum…
Kita saat ini sebagai umat Islam dan sebagai rakyat Indonesia harus instropeksi diri kenapa kita saat ini dalam bernegara dapat ujian dan cobaan begitu banyak masalah yg menimpa dimana ini diakibatkan para pemimpin yg ada berperilaku tidak baik. Masalah yg muncul silih berganti, satu masalah belum selesai diatasi sudah muncul masalah baru lagi bahkan lebih pelik. Rakyat semakin terjepit dengan kemiskinan dan kemiskinan belum mentas ditambah pungutan-pungutan yg semakin mencekik. Inilah saatnya kita semua rakyat Indonesia khususnya umat Islam berinstropeksi diri atau dalam bahasa arab muhassabah. Kita harus secepatnya muhassabah untuk mengoreksi diri memperbaiki diri menuju diri yg lebih baik sehingga masalahnya tidak menjadi-jadi atau lebih buruk dan hancur.
Tidak ada satupun manusia yg hidup di dunia yg lepas dari dosa atau kesalahan, maka sangat dianjurkan sebaiknya untuk selalu berinstropeksi diri. Rasulullah Saw menganjurkan instropeksi diri atau muhassabah dilakukan setiap malam hari saat mau tidur dimana kita mengoreksi segala sikap, kelemahan, perbuatan dan kesalahan diri di sepanjang hari tsb. Ini dimaksudkan agar hari esoknya atau selanjutnya tidak mengulang kesalahan atau perbuatan buruk sebelumnya dan berubah menjadi pribadi yg lebih baik.
Ada beberapa dalil atau pedoman baik Al-Qur’an maupun Hadits ataupun perkataan sahabat Nabi dan ulama terkemuka mengenai pentingnya instropeksi diri atau muhassabah agar bisa terjadi perubahan keadaan yg lebih baik. Berikut dalil-dalinya,
Surat Al-Hasyr, artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.
Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS Al-Hasyr: 18).
Ungkapan Umar Ra melalui Imam Al-Ghazali,
“Hendaklah kalian lakukan muhassabah atas diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah perbuatan kalian sebelum ia kelak ditimbang.”
(Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin).
Hadist Nabi Muhammad Saw,
‘Seorang sahabat menemui Rasulullah Saw untuk meminta wejangan kepadanya.
‘Wahai Rasulullah, berilah aku wejangan,’.
‘Apakah kau meminta wejanganku?’.
‘Benar,’. jawabnya dengan bahagia.
‘Bila kau bermaksud untuk melakukan sesuatu, pikirkanlah dampaknya. Jika ia baik, lakukanlah. Tetapi jika itu buruk, tahanlah’.
(Imam Al-Ghazali).
Al-Ghazali berkata,
“Orang yang (bijak) berakal hendaknya mengalokasikan seperempat waktunya untuk bermuhasabah.”
(Imam Al-Ghazali).
Surat An-Nur,
“Bertobatlah kalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (QS An-Nur: 31).
Surat Al-A’raf,
“Sungguh, orang-orang yang bertakwa bila ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, lalu ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”
(QS Al-A’raf: 201).
Rasulullah Saw, dikutip Al-Ghazali :
Beliau bersabda:
“Sungguh, aku meminta ampun dan bertobat kepada Allah sebanyak 100 kali dalam sehari.”
(Imam Al-Ghazali).
Umar bin Khatab Ra
Bila malam tiba, ia memukul kedua kakinya dengan mutiara sebagai muhassabah atau instropeksi diri.
Kepada dirinya sendiri, Umar bin Khatab Ra mengatakan sebagai bentuk muhasabah, “Apa saja yang kau lakukan hari ini?”
Keutamaan muhasabah diri adalah ilustrasi memohon ampun kepada Allah Swt atas perbuatan dosa atau salah yg telah diperbuat selama ini.
Karena muhassabah merupakan hal yang penting maka sebaiknya muhassabah dilakukan setiap hari atau setiap saat agar cepat terkoreksi kesalahan-kesalahan tsb dan cepat kembali di jalan yg baik.
Sebab ternyata, muhassabah mengandung berbagai keutamaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa muhassabah dapat diidentifikasi sebagai salah satu alternatif upaya untuk mengembangkan nilai-nilai akhlak yang baik.
Hal ini akan berkaitan juga dengan adanya kemungkinan bagi pengembangan diri dan pengembangan moral.
Ini juga seiring dengan perkataan Imam Al-Ghazali yang mengaitkan muhasabah dan tobat.
Keduanya tidak dapat dipisahkan, karena tobat adalah peninjauan atau koreksi terhadap perbuatan atau sikap diri sendiri yang dilakukan dengan rasa penyesalan.
Adapun keutamaan muhassabah sebagai berikut,
- Menjadi sifat hamba Allah yang bertakwa
Orang yang bertakwa adalah mereka yang membawa sebaik-baik bekal untuk akhirat nanti.
Namun dalam perjalanannya tidak selalu mendapatkan jalan yang mulus.
Bisa saja orang tersebut merasa lelah dan lemah, bahkan bosan.
Muhassabah akan membantu menghadapi berbagai rintangan yang dihadapi.
Maimun bin Mahran rahimahullah berkata : “Tidaklah seorang hamba menjadi bertaqwa sampai dia melakukan muhassabah atas dirinya lebih keras daripada seorang teman kerja yang pelit yang membuat perhitungan dengan temannya.”
- Hasil dari muhasabah adalah tobat
Banyak di antara manusia yang melakukan kemaksiatan, namun Allah Swt masih memberikan nikmat kepadanya.
Dia tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah bentuk isti’draj atau penangguhan menuju kebinasaan dari Allah Swt, sebagaimana firman-Nya :
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.”
(QS Al-A’raf: 182).
Orang-orang yang memahami ayat ini akan merasa takut atas peringatan Allah Swt, sehingga senantiasa mengintrospeksi diri.
Jangan sampai bahwa nikmat yang telah diberikan merupakan bentuk istidraj.
Muhassabah yang benar mengantarkan kepada tobat yang akan diawali dengan penyesalan.
Rasulullah Saw bersabda : “Menyesal adalah tobat.”
(HR Ibnu Majah, Ahmaddan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiih al-Jaami’ ash-Shaghir).
- Menambah energi untuk beribadah
Muhassabah akan menjadi energi tambahan yang dibutuhkan saat mengerjakan seluruh perintah Allah Swt.
Dalam kitab Imam Bukhari, dibuka dengan perkataan Abu Az-Zinad, “Sesungguhnya mayoritas sunah dan kebenaran bertentangan dengan pendapat pribadi.”
(HR Bukhari).
Imam Bukhari mengatakan bahwa manusia sering menolak kebenaran hanya karena bertentangan dengan pendapat pribadi.
Contohnya saja saat Rasulullah Saw berdakwah namun mendapat banyak tolakan karena tidak sejalan dengan keinginan pribadi suatu kaum.
Muhassabah adalah salah satu cara untuk memperbaiki hati, melatih, menyucikan, dan membersihkannya. Dalam Islam, faktor utama yang menyebabkan seseorang mau melakukan muhassabah adalah keimanan dan keyakinan bahwa Allah Swt akan menghitung amal semua hamba-Nya.
Jika amalannya baik, maka Allah Swt akan memberikan balasan yang baik pula. Sebaliknya jika amalannya buruk, maka ia akan mendapatkan balasan yang buruk pula.
Wallahu a’lam, mari kita semuanya melakukan instropeksi diri atau muhassabah yaitu melihat apa yg sudah kita lakukan atau perbuat selama ini untuk mengoreksinya yg salah agar berubah jadi baik. Dan dalam.kaitannya bernegara setelah kita semua sebagai rakyat melakukan instropeksi diri dan mengoreksinya serta bertobat maka berharap Allah selanjutnya akan memberikan keadaan perubahan negara yg lebih baik dengan para pemimpin yg terpilih baik amanah jujur fatonah dan bertanggung jawab.
Semoga Allah Swt selalu mengampuni kita dan semoga Allah Swt selalu membimbing kita di jalan yg diridloi-Nya…aamiin
Barakallahu feek dan Allah selalu bersama dengan kita.
Salam
