Muhasabah

Maaf tulisan kali ini agak panjang tapi mohon bisa disempatkan membaca dengan perlahan dan seksama agar kita sama-sama mendapatkan keberkahan dan manfaatnya..🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Assalamu’alaikum…

Kita saat ini sebagai umat Islam dan sebagai rakyat Indonesia harus instropeksi diri kenapa kita saat ini dalam bernegara dapat ujian dan cobaan begitu banyak masalah yg menimpa dimana ini diakibatkan para pemimpin yg ada berperilaku tidak baik. Masalah yg muncul silih berganti, satu masalah belum selesai diatasi sudah muncul masalah baru lagi bahkan lebih pelik. Rakyat semakin terjepit dengan kemiskinan dan kemiskinan belum mentas ditambah pungutan-pungutan yg semakin mencekik. Inilah saatnya kita semua rakyat Indonesia khususnya umat Islam berinstropeksi diri atau dalam bahasa arab muhassabah. Kita harus secepatnya muhassabah untuk mengoreksi diri memperbaiki diri menuju diri yg lebih baik sehingga masalahnya tidak menjadi-jadi atau lebih buruk dan hancur.

Tidak ada satupun manusia yg hidup di dunia yg lepas dari dosa atau kesalahan, maka sangat dianjurkan sebaiknya untuk selalu berinstropeksi diri. Rasulullah Saw menganjurkan instropeksi diri atau muhassabah dilakukan setiap malam hari saat mau tidur dimana kita mengoreksi segala sikap, kelemahan, perbuatan dan kesalahan diri di sepanjang hari tsb. Ini dimaksudkan agar hari esoknya atau selanjutnya tidak mengulang kesalahan atau perbuatan buruk sebelumnya dan berubah menjadi pribadi yg lebih baik.

Ada beberapa dalil atau pedoman baik Al-Qur’an maupun Hadits ataupun perkataan sahabat Nabi dan ulama terkemuka mengenai pentingnya instropeksi diri atau muhassabah agar bisa terjadi perubahan keadaan yg lebih baik. Berikut dalil-dalinya,

Surat Al-Hasyr, artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.
Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS Al-Hasyr: 18).

Ungkapan Umar Ra melalui Imam Al-Ghazali,
“Hendaklah kalian lakukan muhassabah atas diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah perbuatan kalian sebelum ia kelak ditimbang.”
(Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin).

Hadist Nabi Muhammad Saw,
‘Seorang sahabat menemui Rasulullah Saw untuk meminta wejangan kepadanya.
‘Wahai Rasulullah, berilah aku wejangan,’.
‘Apakah kau meminta wejanganku?’.
‘Benar,’. jawabnya dengan bahagia.
‘Bila kau bermaksud untuk melakukan sesuatu, pikirkanlah dampaknya. Jika ia baik, lakukanlah. Tetapi jika itu buruk, tahanlah’.
(Imam Al-Ghazali).

Al-Ghazali berkata,
“Orang yang (bijak) berakal hendaknya mengalokasikan seperempat waktunya untuk bermuhasabah.”
(Imam Al-Ghazali).

Surat An-Nur,
“Bertobatlah kalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (QS An-Nur: 31).

Surat Al-A’raf,
“Sungguh, orang-orang yang bertakwa bila ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, lalu ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”
(QS Al-A’raf: 201).

Rasulullah Saw, dikutip Al-Ghazali :
Beliau bersabda:
“Sungguh, aku meminta ampun dan bertobat kepada Allah sebanyak 100 kali dalam sehari.”
(Imam Al-Ghazali).

Umar bin Khatab Ra
Bila malam tiba, ia memukul kedua kakinya dengan mutiara sebagai muhassabah atau instropeksi diri.

Kepada dirinya sendiri, Umar bin Khatab Ra mengatakan sebagai bentuk muhasabah, “Apa saja yang kau lakukan hari ini?”

Keutamaan muhasabah diri adalah ilustrasi memohon ampun kepada Allah Swt atas perbuatan dosa atau salah yg telah diperbuat selama ini.
Karena muhassabah merupakan hal yang penting maka sebaiknya muhassabah dilakukan setiap hari atau setiap saat agar cepat terkoreksi kesalahan-kesalahan tsb dan cepat kembali di jalan yg baik.

Sebab ternyata, muhassabah mengandung berbagai keutamaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa muhassabah dapat diidentifikasi sebagai salah satu alternatif upaya untuk mengembangkan nilai-nilai akhlak yang baik.
Hal ini akan berkaitan juga dengan adanya kemungkinan bagi pengembangan diri dan pengembangan moral.

Ini juga seiring dengan perkataan Imam Al-Ghazali yang mengaitkan muhasabah dan tobat.
Keduanya tidak dapat dipisahkan, karena tobat adalah peninjauan atau koreksi terhadap perbuatan atau sikap diri sendiri yang dilakukan dengan rasa penyesalan.
Adapun keutamaan muhassabah sebagai berikut,

  1. Menjadi sifat hamba Allah yang bertakwa
    Orang yang bertakwa adalah mereka yang membawa sebaik-baik bekal untuk akhirat nanti.
    Namun dalam perjalanannya tidak selalu mendapatkan jalan yang mulus.
    Bisa saja orang tersebut merasa lelah dan lemah, bahkan bosan.
    Muhassabah akan membantu menghadapi berbagai rintangan yang dihadapi.

Maimun bin Mahran rahimahullah berkata : “Tidaklah seorang hamba menjadi bertaqwa sampai dia melakukan muhassabah atas dirinya lebih keras daripada seorang teman kerja yang pelit yang membuat perhitungan dengan temannya.”

  1. Hasil dari muhasabah adalah tobat
    Banyak di antara manusia yang melakukan kemaksiatan, namun Allah Swt masih memberikan nikmat kepadanya.
    Dia tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah bentuk isti’draj atau penangguhan menuju kebinasaan dari Allah Swt, sebagaimana firman-Nya :
    “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.”
    (QS Al-A’raf: 182).

Orang-orang yang memahami ayat ini akan merasa takut atas peringatan Allah Swt, sehingga senantiasa mengintrospeksi diri.
Jangan sampai bahwa nikmat yang telah diberikan merupakan bentuk istidraj.
Muhassabah yang benar mengantarkan kepada tobat yang akan diawali dengan penyesalan.
Rasulullah Saw bersabda : “Menyesal adalah tobat.”
(HR Ibnu Majah, Ahmaddan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiih al-Jaami’ ash-Shaghir).

  1. Menambah energi untuk beribadah
    Muhassabah akan menjadi energi tambahan yang dibutuhkan saat mengerjakan seluruh perintah Allah Swt.
    Dalam kitab Imam Bukhari, dibuka dengan perkataan Abu Az-Zinad, “Sesungguhnya mayoritas sunah dan kebenaran bertentangan dengan pendapat pribadi.”
    (HR Bukhari).

Imam Bukhari mengatakan bahwa manusia sering menolak kebenaran hanya karena bertentangan dengan pendapat pribadi.
Contohnya saja saat Rasulullah Saw berdakwah namun mendapat banyak tolakan karena tidak sejalan dengan keinginan pribadi suatu kaum.

Muhassabah adalah salah satu cara untuk memperbaiki hati, melatih, menyucikan, dan membersihkannya. Dalam Islam, faktor utama yang menyebabkan seseorang mau melakukan muhassabah adalah keimanan dan keyakinan bahwa Allah Swt akan menghitung amal semua hamba-Nya.
Jika amalannya baik, maka Allah Swt akan memberikan balasan yang baik pula. Sebaliknya jika amalannya buruk, maka ia akan mendapatkan balasan yang buruk pula.

Wallahu a’lam, mari kita semuanya melakukan instropeksi diri atau muhassabah yaitu melihat apa yg sudah kita lakukan atau perbuat selama ini untuk mengoreksinya yg salah agar berubah jadi baik. Dan dalam.kaitannya bernegara setelah kita semua sebagai rakyat melakukan instropeksi diri dan mengoreksinya serta bertobat maka berharap Allah selanjutnya akan memberikan keadaan perubahan negara yg lebih baik dengan para pemimpin yg terpilih baik amanah jujur fatonah dan bertanggung jawab.
Semoga Allah Swt selalu mengampuni kita dan semoga Allah Swt selalu membimbing kita di jalan yg diridloi-Nya…aamiin
Barakallahu feek dan Allah selalu bersama dengan kita.

Salam

Pahlawan Mochtar

Catatan Dahlan Iskan

08 June 2021
Oleh : Dahlan Iskan

SAYA pun sudah hampir lupa: begitu besar jasa beliau kepada Indonesia. Boleh dikata, beliaulah yang berhasil membuat luas wilayah Indonesia menjadi dua kali lipat. Tanpa perang. Tanpa pertumpahan darah.

Itulah beliau: Prof Dr Mochtar Kusumaatmadja. Yang meninggal dunia Ahad kemarin. Dalam usia 92 tahun.

Pak Mochtar adalah ahli hukum laut. Yang pertama dimiliki Indonesia. Yang amat langka pun di dunia –saat itu.

Berkat teori Pak Mochtar maka laut di antara dua pulau di suatu negara adalah termasuk wilayah negara itu.

Singkat kata, beliau berhasil mengegolkan satu bentuk baru sebuah negara: negara kepulauan. Yang itu berbeda dengan negara daratan. Main land. Da Lu.

Dunia pun lantas menerima adanya bentuk negara kepulauan itu. PBB juga mengesahkannya. Jadilah United Nation Convention of the Law of the Sea (UNCLOS).

Dari situ pula perundingan perbatasan laut antara Indonesia dan Australia disepakati. Padahal, sebelum itu, perundingan perbatasan tersebut sangat seret. Rumit. Diwarnai kepentingan ekonomi: ada sumber minyak di laut antara Indonesia dan Australia itu.

Indonesia akhirnya memenangkan perundingan itu. Indonesia pun mendapat separo ladang minyak itu –yang setelah TimTim merdeka menjadi bagian Timor Leste.

Saya tidak habis pikir: bagaimana bisa seorang pribumi seperti Pak Mochtar, di tahun 1955, sudah bisa lulus S-2 dari Yale University, Amerika Serikat. Untuk ilmu hukum. Berarti di tahun 1953 beliau sudah lulus sarjana hukum Universitas Indonesia (UI).

Keluarga jenis apakah beliau? Kok begitu mementingkan pendidikan?

“Generasi kakak saya itu memang istimewa,” ujar Sarwono Kusumaatmadja, adik kandung pak Mochtar. “Kakak saya itu bergabung ke tentara pelajar. Tapi sekolahnya kok bisa selesai tepat waktu,” ujar Sarwono yang juga pernah menjadi menteri di zaman Pak Harto dan di zaman Gus Dur.

Sarwono adalah politikus besar: Sekjen Golkar yang sangat legendaris. Golkar tapi kritis. Kritis tapi Golkar.

Menurut Sarwono, ibundanya adalah keluarga pesantren Balerante di Cirebon. “Beliau orang pesantren pertama yang disekolahkan di sekolah Belanda,” ujar Sarwono. Sang ibu lantas menjadi guru SD di Sekolah Kartini.

Sedang ayahnya adalah pegawai di pemerintahan Belanda. “Ayah saya dari kalangan klein ambtenaar tapi profesi beliau asisten apoteker,” ujar Sarwono.

Sejak kecil Mochtar sudah terlihat pintar dan cerdas. “Kakak saya itu tergolong jenius,” ujar Sarwono mengutip pendapat banyak orang di sekitarnya. Kejeniusan itulah yang membuat ayah dan ibunya berbeda pendapat.

“Ibu saya minta agar Mochtar dibiayai untuk sekolah di luar negeri. Ayah saya tidak setuju. Menurut ayah, yang perlu dibantu adalah keluarga lain yang tidak mampu,” ujar Sarwono.

“Mochtar itu dibiarkan saja bisa jadi dengan sendirinya,” ujar sang ayah seperti ditirukan Sarwono.

Akhirnya Mochtar tidak diberi uang. Ia pilih sendiri untuk sekolah di UI. Lalu ke Amerika Serikat.

Memilih sekolah ke Amerika itu pun sudah menunjukkan ”keanehan” tersendiri. Pada zaman itu semua anak muda ingin sekolah ke Belanda. Apalagi untuk ilmu hukum. Mereka pasti memilih ke Leiden.

“Kakak saya juga punya bakat bisnis,” ujar Sarwono.

Ketika kuliah di UI, pamannya yang di Cirebon sering membawa makanan khas daerah. Mochtar-lah yang mengedarkan makanan itu ke warung-warung. “Saya kebagian pekerjaan bungkus-bungkus,” ujar Sarwono lantas tertawa.

Sarwono sendiri kini berumur 77 tahun. Bicaranya masih tangkas. “Pak Sarwono terlihat sehat sekali,” kata saya mendengar nada bicaranya yang tetap tangkas.

“Saya ini OTG,” jawabnya.

Saya sempat terpancing oleh singkatan itu.

“Saya juga OTG. Januari lalu,” kata saya.

Ternyata OTG yang ia maksud berbeda dengan OTG yang ada di pikiran saya.

“Saya itu Orang Tua Gembira,” tukasnya.

Kami pun tertawa.

Berbeda dengan masa kecil Mochtar, Sarwono kecil dianggap sebagai anak kurang normal. “Dokter mengatakan saya punya kelemahan syaraf motorik. Jangan terlalu banyak diharap,” ujar Sarwono mengenang masa kecilnya.

Dari gaya jalan kakinya saja sudah terlihat kelihatan tidak normal. “Banyak yang mengkhawatirkan saya,” katanya. Terutama kalau lagi jalan kaki berangkat sekolah.

“Tidak ada yang takut saya akan ditabrak mobil, justru saya yang dikhawatirkan akan menabrak mobil,” ujarnya.

Tapi pamannya melihat lain. Sarwono kecil itu dinilai punya banyak kelebihan. Hanya saja belum tahu di bidang apa kelebihan itu.

Maka ketika sang paman bertugas sebagai duta besar di Yugoslavia, Sarwono dibawa ke Eropa. Di umurnya yang 13 tahun.

Bahkan sang paman kemudian menyekolahkan Sarwono ke Inggris.

“Dari sama sekali tidak bisa bahasa Inggris menjadi lulus terbaik,” katanya.

Itu untuk tingkat SMP. Lalu Sarwono masuk SMA Katolik di Jakarta. Setelah itu masuk perguruan tinggi terbaik, ITB.

Di kampus Sarwono aktif di gerakan mahasiswa. Jadilah tokoh mahasiswa. Lalu jadi politikus.

Sarwono pun akhirnya menjadi menteri. Tiga kali pula: Menteri Kelautan, Menteri Lingkungan Hidup, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara.

Mochtar Kusumaatmadja sendiri juga tiga kali menjadi menteri. Yakni Menteri Kehakiman dan dua kali Menteri Luar Negeri.

Keluarga ini memang ”keluarga Menteri”. Putri Pak Mochtar, Prof Dr Armida Alisjahbana adalah Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Di era Presiden SBY. Satu angkatan dengan saya.

(Dahlan Iskan)

Tentu banyak yang kaget ketika nama Pak Mochtar tiba-tiba muncul di media: meninggal dunia Ahad lalu. Beliau memang sudah sangat lama tidak ”beredar” di pemberitaan. Yakni sejak beliau sakit: 1999.

“Awalnya beliau kebanyakan obat,” ujar Sarwono.

Dokter berikutnya lantas mengurangi obat. Tinggal dua jenis saja. Beliau pun sehat kembali. Tapi sudah terlambat. Beliau memang masih bisa berpikir, berbicara, dan mendengarkan, tapi tidak bisa lagi bicara.

Beliau juga bisa bergerak tapi lebih banyak di kursi roda.

Hampir 20 tahun Pak Mochtar dalam keadaan seperti itu. Mirip sekali dengan bos saya dulu, yang juga Bendahara Umum DPP Golkar: Eric Samola. Dari kebanyakan obat menjadi seperti itu.

Pak Mochtar akhirnya meninggal dunia. Dari jasa-jasanya pada negara tentu harus sekali Pak Mochtar Kusumaatmadja menjadi pahlawan nasional.

Cinta Ulama

Sayyidina Abu Bakar RA selalu mengiringi Rasulullah SAW berjalan pulang setelah menunaikan shalat Isya berjamaah. Keduanya berjalan bersama dan berpisah ketika Nabi masuk rumahnya. Meski berpisah sesaat, tapi terasa berat bagi seorang Abu Bakar. Karenanya, terkadang beliau duduk dan terjaga semalam suntuk di depan pintu rumah Nabi hingga fajar tiba.

“Mengapa sampai segitunya, duhai Abu Bakar?” tanya Rasul ketika tahu sahabat sejatinya itu menunggui rumahnya sampai menjelang fajar.

“Sungguh, engkau adalah segala penghias dan pengobat rindu bagi mataku, wahai Rasulullah; qurratu ‘ayni bika ya Rasulullah!” jawab Abu Bakar as-Shidiq.

Subhanallah, begitulah kecintaan mendalam seseorang kepada Sang Nabi. Lalu, bagaimana dengan kita yang tak pernah tahu bagaimana rupa Rasulullah SAW. Jawabannya adalah sebagaimana ujaran Imam Hasan al-Basri ketika ditanya tentang amalan yang mendekatkan diri kepada Allah dan yang menyelamatkan pada hari akhir. “Cintailah para aulia atau ulama (orang yang dekat dengan Allah) dan berharap ketika Allah menatap hati para kekasihnya, di sana tertulis namamu. Dan itu akan membuat Allah membiarkan engkau bersama mereka di tempat terbaik-Nya.”

Ulama adalah orang-orang yang berjuang di jalan agama melalui ilmu. Mereka adalah orang-orang yang mewarisi Nabi dalam menjaga dan mensyiarkan ilmu-ilmu-Nya. Dari lisan dan amal mereka, umat mendapati khazanah pengetahuan untuk tetap berpegang pada kebenaran di atas Alquran dan as-Sunnah.

Dengan mencintai ulama maka pasti yang ditemukan adalah kebaikan dan keberkahan. Mengambil tangan ulama lalu menciumnya adalah hal indah yang didapat dari mereka yang mencintai ulama. Apalagi, menziarahi dan bersilaturahim kepadanya.

Sebut sebuah hadis,
“Barangsiapa mengunjungi orang alim maka ia seperti mengunjungi aku, barangsiapa berjabat tangan kepada orang alim, ia seperti berjabat tangan denganku, barangsiapa duduk bersama orang alim maka ia seperti duduk denganku di dunia, dan barangsiapa yang duduk bersamaku di dunia maka Allah mendudukkanya pada hari kiamat bersamaku.” (Kitab Lubabul Hadits).

Dari Abu Harairah RA, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,6 “Barangsiapa mengunjungi orang alim, maka aku menjamin kepadanya dimasukkan surga oleh Allah.(Kitab Tanqihul Qaul).

Mencintai ulama berarti mencintai dan meneruskannya dalam amal setiap nasihatnya. Mencintai ulama berarti siap menyokong dan membelanya. Mencintai ulama berarti bersiap menjemput syahid jika ada titah turun kepadanya.

Semoga, umat di negeri ini semakin cerdas dalam menyebar cinta kepada para ulamanya. Ulama yang disayang, bukan malah ditendang. Ulama yang dicintai, bukan malah dizalimi. Insyaa Allah.

Semoga Bermanfaat
اَلّٰلهُمَّ صَلِّ عَلَی سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَی آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 🌹

Pemimpin Dzolim

JENIS JENIS PEMIMPIN DZOLIM YANG DIKABARKAN OLEH RASULULLAH SHOLALLOHU’ALAIHI WASALLAM!

DAN BAGAIMANA SIKAP SEORANG MUSLIM YANG BERIMAN?

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam surah Al-Hijr ayat 92-93:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

: “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu”. ( QS. Al-Hijr : 92-93)

Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam bersabda :

الَ أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُم.ْ

: “Ketahuilah…Setiap orang diantara kalian adalah pemimpin yang akan di mintai pertanggung jawabannya, seorang imam adalah pemimpin bagi masyarakatnya dan akan di mintai pertanggung jawabanya tentang kepimpinannya… (HR. Al-Bukhari).

DIANTARA JENIS JENIS PARA PEMIMPIN DZALIM YANG DISEBUTKAN OLEH RASULULLAH SHOLALLOHU’ALAIHI WASALLAM!

  1. PARA PEMIMPIN SESAT!

Diriwayatkan dari Aus Rodiyallohu’ahu berkata, bahawa Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

إِنِّي لاَ أَخَافُ عَلىَ أُمَّتيِ إِلاَّ الأَئِمَّةَ المُضَلِّينَ.

: “Aku tidak takut (ujian yang akan menimpa) pada umatku, kecuali (ujian) para pemimpin sesat.” (HR. Ibnu Hibban).

Sufyan as-Tsauri rahimahullah menggambarkan mereka dengan mengatakan:

TIDAKLAH KALIAN MENJUMPAI PARA PEMIMPIN SESAT
KECUALI KALIAN MENGINGKARI MEREKA DENGAN HATI
AGAR AMAL KALIAN TIDAK SIA SIA

  1. PARA PEMIMPIN YANG JAHIL AGAMA

Dari Jabir bin Abdillah Rodiyallohu’ahu bahawa Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam berkata kepada Ka’ab bin Ajzah:
أَعَاذَكَ اللهَ مِنْ إمَارَةِ السُّفَهَاءِ.

: “Aku memohon perlindungan untukmu kepada Allah dari kepemimpinan orang-orang bodoh.” (HR. Ahmad).

  1. PARA PEMIMPIN YANG MENOLAK KEBENARAN DAN MENYERU KEPADA KEMUNGKARAN

Dari Ubadah bin Shamit Rodiyallohu’ahu berkata bahawa Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يَأْمُرُونَكُمْ بِمَا لاَ تَعْرِفُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا تُنْكِرُونَ فَلَيْسَ لاِؤلَئِكَ عَلَيْكُمْ طَاعَةٌ.
KALIAN AKAN DIPIMPIN OLEH PARA PEMIMPIN YANG MEMERINTAH KALIAN DENGAN HUKUM YANG TIDAK KALIAN KETAHUI (imani)
SEBALIKNYA
MEREKA MELAKUKAN APA YANG KALIAN INGKARI
SEHINGGA TERHADAP MEREKA INI

TIDAK ADA KEWAJIBAN BAGI KALIAN UNTUK MENTAATINYA!

(HR. Ibnu Abi Syaibah).

  1. PARA PENGUASA YANG MEMERINTAH DENGAN MENGANCAM DAN MENEKAN RAKYATNYA!

Dari Abu Hisyam as-Silmi Rodiyallohu’ahu berkata bahawa Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أَئِمَّةٌ يَمْلِكُوْنَ رِقَابَكُمْ وَيُحَدِّثُوْنَكُمْ فَيَكْذِبُونَ، وَيَعْمَلُوْنَ فَيُسِيؤُونَ، لا يَرْضَوْنَ مِنْكُمْ حَتَّى تُحَسِّنُوا قَبِيْحَهُمْ وَتُصَدِّقُوْا كَذِبَهُمْ، اعْطُوْهُمُ الحَقَّ مَا رَضُوا بِهِ.

: “Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang mengancam kehidupan kalian. Mereka berbicara (berjanji) kepada kalian, kemudian mereka mengingkari (janjinya). Mereka melakukan pekerjaan, lalu pekerjaan mereka itu sangat buruk. Mereka tidak suka dengan kalian hingga kalian menilai baik (memuji mereka) dengan keburukan mereka, dan kalian membenarkan kebohongan mereka, serta kalian memberi kepada mereka hak yang mereka senangi.” (HR. Thabrani).

  1. PARA PEMIMPIN YANG MENGANGKAT PEMBANTU ORANG ORANG JAHAT DAN SELALU MENGABAIKAN SYARI’AT ALLAH

Dari Abu Hurairah Rodiyallohu’ahu yang berkata bahawa Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أُمَرَاءُ ظَلَمَةٌ، وَوُزَرَاءُ فَسَقَةٌ، وَقُضَاةٌ خَوَنَةٌ، وَفُقَهَاءُ كَذَبَةٌ، فَمَنْ أَدْرَكَ مِنْكُمْ ذَلِكَ الزَّمَنَ فَلا يَكُونَنَّ لَهُمْ جَابِيًا وَلا عَرِيفًا وَلا شُرْطِيًّا.

Artinya: “Akan datang di akhir zaman nanti para penguasa yang memerintah dengan sewenang-wenang, para pembantunya (menteri-menterinya) fasik, para hakim nya menjadi pengkhianat hukum, dan para ahli hukum Islam (fuqaha’nya) menjadi pendusta. Sehingga, siapa saja di antara kalian yang mendapati zaman itu, maka sungguh kalian jangan menjadi pemungut cukai (kerana khawatir akan bersubahat dengan mereka).” (HR. Thabrani).

  1. PARA PEMIMPIN YANG MEMERINTAH DENGAN DIKTATOR (kejam)

Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam bersabda: إِنَّ شَرَّ الوُلاَةِ الحُطَمَةُ.

Artinya:“Sesungguhnya seburuk buruknya para penguasa adalah penguasa al-huthamah (diktator).” (HR. Al-Bazzar).

Pemimpin al-huthamah (diktator) adalah pemimpin yang menggunakan politik tangan besi terhadap rakyatnya dengan memaksakan rakyat meskipun tidak di sukai oleh rakyatnya.

Dari Abu Layla al-Asy’ari bahwa Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

وسَيأتي أُمَرَاءُ إنْ اسْتُرْحِمُوا لَمْ يَرْحَمُوا، وإنْ سُئِلُوا الحَقَّ لَمْ يُعْطُوا، وإِنْ أُمِرُوا بالمَعْرُوفِ أَنْكَرُوا، وسَتَخَافُوْنَهُمْ وَيَتَفَرَّقَ مَلأُكُمْ حَتى لاَ يَحْمِلُوكُمْ عَلى شَيءٍ إِلاَّ احْتُمِلْتُمْ عَلَيْهِ طَوْعاً وَكَرْهاً، ادْنَى الحَقِّ أَنْ لاَ تٌّاخُذُوا لَهُمْ عَطَاءً ولا تَحْضُروا لَهُمْ في المًّلاَ

Artinya: “Dan akan datang para pemimpin, jika mereka diminta untuk mengasihani (rakyat), mereka tidak mengasihani; jika mereka diminta untuk menunaikan hak (rakyat), mereka tidak menunaikannya; dan jika mereka disuruh berlaku adil mereka menolak keadilan . Mereka akan membuat hidup kalian dalam ketakutan; dan memecah-belah tokoh-tokoh kalian. Sehingga mereka tidak membebani kalian dengan suatu beban, kecuali mereka membebani kalian dengan paksa, baik kalian suka atau tidak.

SERENDAH RENDAH NYA HAK KALIAN ADALAH
KALIAN TIDAK MENGAMBIL PEMBERIAN MEREKA DAN TIDAK KALIAN MENGHADIRI PERTEMUAN MEREKA
(HR. Thabrani).

  1. PARA PENGUASA ZINDIQ (berpura-pura iman)

Dari Ma’qil bin Yasar bahwa Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَنْ تَنَالَهُمَا شَفَاعَتِي: إِمَامٌ ظَلُومٌ، وَكُلُّ غَالٍ مَارِقٍ.

Artinya: “Dua golongan umatku yang keduanya tidak akan pernah mendapatkan syafa’atku: pemimpin yang bertindak zalim (terhadap rakyatnya), dan orang yang berlebihan dalam beragama hingga sesat dari jalan agama.” (HR. Thabrani).

  1. PARA PEMIMPIN YANG BANYAK MENIPU UMATNYA

Dari Abu Hurairah Rodiyallohu’ahu, Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ.

Artinya: “Akan datang kepada masyarakat tahun-tahun yang penuh tipuan dan kebohongan. Pada tahun-tahun itu pembohong dipandang jujur, yang orang yang jujur dianggap pembohong, pada tahun-tahun tersebut para pengkhianat dianggap orang yang amanah, sedangkan orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada saat itu yang berbicara adalah ruwaibidhah.” Lalu ada sahabat bertanya, “Apakah ruwaibidhah itu?” Rasulullah menjawab, “Orang bodoh yang berbicara/mengurusi urusan umum/publik.” (Dalam riwayat lain disebutkan, ruwaibidhah itu adalah “orang fasik yang berbicara/mengurusi urusan umum/publik” dan “al-umara (pemerintah) fasik yang berbicara/mengurusi urusan umum/publik”) (HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Ya’la dan al-Bazzar).

WAHAI SAUDARAKU FILLAH SEKALIAN ITULAH JENIS JENIS PEMIMPIN DZOLIM YANG DIKABARKAN OLEH RASULULLAH SHOLALLOHU’ALAIHI WASALLAM..

LALU BAGAIMANA SIKAP SEORANG MUSLIM YANG BERIMAN MENYIKAPI NYA?

Ada sebuah riwayat hadits yang perlu jadi bahan perhatian, dan membuat kita benar-benar dalam menyikapinya.

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ دَخَلَ وَنَحْنُ تِسْعَةٌ وَبَيْنَنَا وِسَادَةٌ مِنْ أَدَمٍ فَقَالَ إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَيُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ

Dari Ka’ab bin Ujrah ia berkata, “Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam pernah keluar atau masuk menemui kami, ketika itu kami berjumlah sembilan orang. Dan di antara kami ada bantal dari kulit. Baginda lalu bersabda:

SESUNGGUHNYA AKAN ADA SETELAH KU PARA PEMIMPIN YANG BERDUSTA DAN DZALIM

BARANG SIAPA YANG MENDATANGI MEREKA KEMUDIAN MEMBENARKAN KEBOHONGAN MEREKA ATAU MEMBANTU MEREKA DALAM KEDZALIMAN NYA!

MAKA IA BUKAN DARI GOLONGAN KU!
DAN AKU
BUKAN DARI GOLONGAN NYA!
SERTA
IA TIDAK AKAN MINUM DARI TELAGA KU

Dan barangsiapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat kezaliman, maka ia adalah dari golonganku dan aku adalah dari golongannya. Dan kelak ia akan minum dari telagaku.”
(HR Ahmad No: 17424),

HADIST DI ATAS BERBICARA TENTANG MENYIKAPI PARA PEMIMPIN DZALIM YANG TELAH DIKABARKAN OLEH RASULULLAH SHOLALLOHU’ALAIHI WASALLAM

Beberapa faedah yang dapat dipetik;

  1. Menjadi tanggungjawab setiap Muslim untuk mencegah kezaliman dan maksiat yang terjadi di sekeliling mereka tentunya diutamakan dengan penuh hikmah dan bijaksana.
  2. Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam
    MEMBERI PERINGATAN KEPADA MEREKA YANG SETUJU DAN MENDUKUNG KEDZALIMAN YANG DILAKUKAN OLEH PEMIMPIN DIKALANGAN MEREKA DENGAN TIDAK MENGAKUI MEREKA BAGIAN DARI UMATNYA DAN TIDAK LAYAK UNTUK MINUM AIR TELAGA RASULULLAH SHOLALLOHU’ALAIHI WASALLAM
  3. Pemimpin yang menjalankan tugasnya dengan adil dan bijaksana akan bersama Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam dan akan bersamanya untuk minum air dari telaga Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam hal ini sebagai simbul kenikmatan di surga.

Firman Allah Subhanahu wata’ala yang terkait dengan hadits diatas adalah

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰۤى اَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 51)

KENAPA HADIST HADIST SEPERTI INI CENDERUNG DISEMBUNYIKAN?

wallohua’lam bishowab…

Haikal Abu Habibah Pagaralam.

Riya

Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakaatuh

KAJIAN
Waspada Virus Halus Bernama Riya🥒

Karena sifatnya yang halus dan lembut tapi berdampak luar biasa, riya’ juga disebut syirik kecil. Bagianda Nabi ﷺ sangat khawatir hal ini

| SUATU ketika, pada suatu waktu sahur, seorang abid (ahli ibadah) sedang membaca Al-Quran, Surah “Thoha”. Usai membaca, di biliknya yang berdekatan dengan jalan raya, ia merasa sangat mengantuk, lalu tertidur.

Dalam tidurnya dia bermimpi melihat seorang lelaki turun dari langit membawa sebuah Al-Quran. Lelaki itu datang menemuinya dan segera membuka kitab suci itu di depannya.

Dibukanya Surah “Thoha” dan disibaknya halaman demi halaman. Si abid melihat setiap kalimat surah yang dibacanya dicatat sepuluh kebajikan sebagai pahala bacaannya kecuali satu kalimat saja yang catatannya ditiadakan pahalanya.

Lalu katanya, “Demi Allah, sesungguhnya telah aku baca seluruh surah ini tanpa meninggalkan satu kalimat pun. Tetapi mengapa catatan pahala untuk kalimat ini ditiadakan?”

“Benar apa yang engkau katakan. Engkau memang tidak meninggalkan kalimat itu dalam bacaanmu tadi. Malah, untuk kalimat itu telah kami catatkan pahalanya. ”Tetapi tiba-tiba kami mendengar suara yang menyeru dari arah ‘Arasy : ‘Hapus catatan itu dan gugurkan pahala untuk kalimat itu’. Maka sebab itulah kami segera menghapusnya”.

Si abid menangis dalam mimpinya itu dan berkata, “Mengapa tindakan itu dilakukan?”. “Sebabnya adalah engkau sendiri. Ketika membaca surah itu tadi, seorang hamba Allah melewati jalan di depan rumahmu. Engkau sadar hal itu, lalu engkau meninggikan suara bacaanmu supaya didengar oleh hamba Allah itu. Kalimat yang tiada bercatatan pahala itulah yang telah engkau baca dengan suara tinggi itu”.

Si abid terjaga dari tidurnya. “Astaghfirullaahal-’Azhim! Sungguh licin virus riya’ menyusup masuk ke dalam kalbuku dan sungguh besar celakanya. Dalam sekejap mata saja ibadahku dimusnahkannya.”

Riya’ berasal dari kata ru’yah (penglihatan) sebagaimana sum’ah berasal dari kata sam’u (pendengaran). Dari sekedar makna bahasa ini bisa difahami bahwa riya’ adalah sikap ingin diperhatikan atau dilihat orang lain.

Para ulama mendefinisikan riya dengan ”menginginkan kedudukan dan posisi di hati manusia dengan memperlihatkan berbagai kebaikan kepada mereka.”

Dari definisi ini jelas bahwa dasar perbuatan riya adalah untuk mencari penghargaan, pujian, kedudukan atau posisi di hati manusia semata dalam suatu amal kebaikan atau ibadah yang kita lakukan.

Sering keberadaan riya’ ini luput dari pengamatan dan perasaan seseorang dikarenakan begitu tidak kentaranya, sehingga ada yang mengibaratkan bahwa ia lebih halus daripada seekor semut hitam di atas batu hitam di tengah malam yang gelap gulita.

Padahal keberadaan riya’ dalam suatu amal amatlah berbahaya dikarenakan ia dapat menghapuskan pahala dari amal tersebut. Riya’ disebut sebagai penyakit yang bersifat lembut namun berdampak luar biasa.

Bersifat lembut karena masuk dalam hati secara halus sehingga kebanyakan orang tak merasa kalau telah terserang penyakit ini. Berdampak luar biasa, karena bila suatu amalan dijangkiti penyakit riya maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah SWT dan pelakunya mendapat ancaman keras dari-Nya.

Riya’ tak ubahnya seperti virus yang tak tampak oleh mata namun dapat membunuh sang penderita. Bila virus penyakit dapat membunuh jasad seseorang, virus riya’ dapat membunuh mata hati.

Tanpa kita sadari, tak jarang setiap perbuatan kita bersifat riya. Saat sholat sendiri di rumah, boleh jadi kita tidak melaksanakan sholat sunnah, namun ketika sholat berjamaah di masjid, tiba-tiba saja kita ingin melaksanakan sholat sunnah.

Contoh lainnya, para public figure yang melakukan aksi sosial dengan liputan kamera para wartawan, seolah ingin menunjukkan kepada semua orang amal kebaikan yang dilakukannya.

Alangkah ruginya bila seseorang melakukan ibadah tetapi di hatinya ada setitik saja rasa show off, atau ingin dipuji. Amalan atau ibadah seperti ini tentu tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali pujian dari manusia saja.

Di mata Allah, amalan ini akan menjadi sia-sia dan tak bernilai, karena syarat diterimanya suatu amal adalah keikhlasan dan tidak keluar dari koridor syariat Islam.

Selain berbahaya sebagai penyakit yang bersifat lembut tapi berdampak luar biasa, riya’ juga disebut sebagai syirik kecil. Oleh karena itu Nabi ﷺ sangat khawatir bila penyakit ini menimpa umatnya.

Nabi Muhammad ﷺ pun bersabda yang artinya:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau ﷺ menjawab: “Ar Riya’.” (HR. Ahmad dari sahabat Mahmud bin Labid)

Beribadah kepada Allah merupakan hak Allah SWT yang bersifat mutlak. Bahwa ibadah itu murni untuk Allah SWT, tidak boleh dicampuri dengan niatan lain selain untuk-Nya. Sebagaimana peringatan Allah SWT dalam firman-Nya:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan (ikhlas) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS: Al Bayyinah: 5)

Karena sifatnya yang halus, maka riya’ menjadi salah satu cara setan menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Untuk itulah manusia harus ekstra hati-hati.

Kebiasaan sholat berjamaah dengan warga sekitar di masjid atau musholla terdekat adalah perilaku mulia, namun hati harus tetap dijaga agar tidak timbul niat untuk menunjukkan giatnya beribadah. Sedekah yang kita salurkan sebaiknya tanpa diketahui oleh orang lain agar tidak muncul hasutan setan untuk pamer.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian menghilangkan pahala sedekahmu dengan selalu menyebut-nyebut dan dengan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang-orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS: Al Baqarah: 264)

Dalam konteks ayat di atas, Allah SWT mengingatkan akibat amalan sedekah yang selalu disebut-sebut atau yang menyakiti perasaan si penerima akan berakibat sebagaimana akibat dari perbuatan riya’, yaitu amalan itu tiada berarti karena tertolak di sisi Allah SWT.

Ayat di atas tidak hanya mencela perbuatan riya saja, tentu celaan ini pun tertuju kepada pelakunya. Bahkan dalam ayat yang lain, Allah swt mengancam bahwa orang-orang yang berbuat riya’ akan mendapatkan kecelakaan (kebinasaan) di akhirat kelak, sebagaimana yang tertuang dalam surah Al Mauun.

Ada sebuah kisah menarik yang tertulis dalam buku 9 Bidadari Bumi. Buku yang ditulis oleh Ustadzah Halimah Alaydrus ini mengisahkan beberapa kisah wanita yang hidup di masa kini yang terus berpegang teguh pada ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW.

Di antara kisah-kisah tersebut terdapat sebuah kisah tentang Hubabah Bahiyyah, seorang wanita lanjut usia dan ahli beribadah. Menariknya, jika ada orang yang mengucapkan sanjungan dan memujinya, beliau langsung bersikap tidak bersahabat dan cenderung kasar.

Orang yang tidak mengenalnya tentu akan menganggap beliau adalah seorang yang sombong dan tidak ramah, tetapi ternyata hal itu beliau lakukan agar ia tidak mendapat pujian dan sanjungan dari orang lain yang dapat membuatnya menjadi tidak ikhlas dalam melaksanakan amal ibadah.

Menurut Imam Ghozali cara untuk menghilangkan penyakit riya’ adalah dengan cara menghilangkan sebab-sebab riya’, seperti kenikmatan terhadap pujian orang lain dan marah jika mendapat celaan dari orang.

Kita perlu membiasakan diri untuk menyembunyikan berbagai amal ibadah yang kita lakukan. Kita juga harus berusaha melawan berbagai bisikan setan untuk berbuat riya’ pada saat mengerjakan suatu ibadah.

Semoga virus-virus riya’ yang barangkali selama ini tidak terasa berada di antara kita perlahan-lahan dapat lenyap dari hati kita dan digantikan oleh sifat ikhlas dan mengharap ridho Allah semata.*/ Fatimah Azzahra Alattas

TAG:
riya, sombong, sum’ah

Kisah Rasul SAW 1

MENYAMBUT DATANGNYA 12 ROBIUL AWAL, HARI LAHIRNYA SANG PEMIMPIN AGUNG, BAGINDA NABI MUHAMMAD SAW.

Sayidah Aminah berkata, “Ketika aku mengandung “Kekasihku” Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, di awal masa kehamilanku, yaitu bulan Rajab.

Suatu malam, ketika aku dalam kenikmatan tidur, tiba tiba masuk seorang laki-laki yang sangat elok parasnya, wangi aromanya, dan tampak sekali pancaran cahayanya.

Dia berkata, “Marhaban bika Yaa Muhammad (Selamat datang untukmu Wahai Muhammad)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab “Aku Adam, ayah sekalian manusia”
“Apa yang engkau inginkan?”
“Aku ingin membawa kabar gembira. Bahagialah engkau wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Sayyidil Basyar” (Pemimpin Manusia)”

Pada bulan kedua datang seorang laki-laki, seraya berkata, “Assalamu’alaika Yaa Rasulallah (Salam untukmu wahai utusan Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Tsits”
“Apa yang engkau inginkan”
“Aku ingin menggembirakanmu, bergembiralah wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibut Ta’wil wal Hadits” (Pemilik Ta’wil dan Hadits)”

Pada bulan ketiga datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika Yaa Nabiyallah (Salam untukmu wahai Nabi Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Idris”
“Apa yang engkau inginkan”
“Gembiralah engkau Yaa Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyir Ro-iis” (Nabi Pemimpin)”.
Pada bulan keempat datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika Yaa Habiballah (Salam untukmu wahai Kekasih Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Nuh”
“Apa yang engkau inginkan”
“Bahagialah wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibun Nashri wal Futuh” (Pemilik Pertolongan dan Kemenangan)”.

Pada bulan kelima datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika Yaa Shafwatallah (Salam untukmu wahai Sahabat Karib Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Hud”
“Apa yang engkau inginkan”
“Bergembiralah wahai ibu Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibusy Syafa’ah fil yawmil Masyhud” (Pemilik Syafaat di Hari persaksian/ Hari kiamat)”.

Pada bulan keenam datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika Yaa Rohmatallah (Salam untukmu wahai kasih sayang Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Ibrohim AlKholil”
“Apa yang engkau inginkan”
“Bahagialah engkau Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Jalil” (Nabi yang Agung)”.
Pada bulan ketujuh datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika Yaa Manikhtaarohullah” (Salam untukmu wahai orang yang telah dipilih Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Isma’il Adz-Dzabih (Yang disembelih)”
“Apa yang engkau inginkan”
“Gembiralah Yaa Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Malih” (Nabi yang Elok)”.

Pada bulan kedelapan datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika Yaa Khirotallah” (Salam untukmu wahai pilihan Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Musa putra Imran”
“Apa yang engkau inginkan”
“Kabar gembira Yaa Aminah, engkau sedang mengandung “Man Yunzalu ‘alaihil Qur’an” (Orang yang akan diuturunkan padanya Al-Qur’an)”.

Pada bulan kesembilan, yakni bulan Robi’ul Awwal, datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika Yaa Rosulallah” (Salam untukmu wahai utusan Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Isa putra Maryam”
“Apa yang engkau inginkan”
“Gembiralah engkau Yaa Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Mukarrom wa Rosulil mu’adhom” (Nabi yang dimuliakan dan Rasul yang diagungkan)”.

Syaikh Nawawi Banten, Maulid Ibriz, hlm 17-19.

Detik-detik Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Telah disebutkan bahwa sesungguhnya pada bulan ke sembilan kehamilan Sayyidah Aminah (Robi’ul-Awwal) saat hari-hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sudah semakin dekat, Alloh SWT semakin melimpahkan bermacam anugerah-Nya kepada Sayyidah Aminah mulai tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Robiul-Awwal malam kelahiran Al-Musthofa Muhammad SAW.

Pada Malam Pertama (ke 1) :

Alloh SWT melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa sehingga Sayyidah Aminah merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Pada malam ke 2 :

Datang seruan berita gembira kepada ibunda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan dirinya akan mendapati anugerah yang luar biasa dari Alloh SWT.

Pada malam ke 3 :

Datang seruan memanggil :
“Wahai Aminah … sudah dekat saat engkau melahirkan Nabi yang agung dan mulia, Muhammad Rosululloh SAW yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Alloh SWT.”

Pada malam ke 4 :

Sayyidah Aminah mendengar seruan beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan jelas.

Pada malam ke 5 :

Sayyidah Aminah mimpi bertemu dengan Nabi Alloh Ibrohim AS.

Pada malam ke 6 :

Sayyidah Aminah melihat cahaya Nabi Muhammad SAW memenuhi alam semesta.

Pada malam ke 7 :

Sayyidah Aminah melihat para Malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira sehingga kebahagiaan dan kedamaian semakin memuncak.

Pada malam ke 8 :

Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut terdengar dengan jelas mengumandangkan :
“Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat kelahiran Nabi Agung, Kekasih Alloh SWT Pencipta Alam Semesta.”

Pada malam ke 9 :

Alloh SWT semakin mencurahkan rohmat kasih sayang kepada Sayyidah Aminah sehingga tidak ada sedikitpun rasa sakit, sedih, susah, dalam jiwa Sayyidah Aminah.

Pada malam ke 10 :

Sayyidah Aminah melihat tanah Tho’if dan Mina ikut bergembira menyambut akan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Pada malam ke 11 :

Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Sayyidina Muhammad SAW.

Malam detik-detik kelahiran Nabi Muhammad SAW, tepat tanggal 12 Robi’ul-Awwal di sepertiga malam. Di malam ke 12 ini langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun. Saat itu Sayyid Abdul Mutholib (kakek Nabi Muhammad SAW) sedang bermunajat kepada Alloh SWT di sekitar Ka’bah. Sedangkan Sayyidah Aminah sendiri di rumah tanpa ada seorang pun yang menemaninya.

Tiba-tiba Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah dan perlahan-lahan muncul 4 wanita yang masing² sangat jelita, anggun dan cantik, diliputi dengan cahaya kemilau yang memancar serta semerbak harum memenuhi seluruh ruangan.

Wanita pertama datang dan berkata :
”Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah, sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi yang Agung, Junjungan Semesta Alam. Beliaulah Nabi Muhammad SAW. Kenalilah aku, bahwa aku adalah Hawa istri Nabi Alloh Adam AS, ibunda seluruh ummat manusia, aku diperintahakan Alloh untuk menemanimu.”

Kemudian datanglah wanita kedua yang menyampaiakan kabar gembira :
“Aku adalah istri Nabi Alloh Ibrohim AS yang diperintahkan Alloh SWT untuk menemanimu.”

Begitu pula menghampiri wanita yang ketiga :
”Aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Alloh untuk menemanimu.”

Datanglah wanita ke empat :
”Aku adalah Maryam, ibunda Isa AS datang untuk menyambut kehadiran putramu Muhammad Rosululloh.”

Sehingga semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan ibunda Nabi Muhammad SAW yang tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata.

Keajaiban berikutnya Sayyidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya berdatangan silih berganti memasuki ruangannya dan mereka memanjatkan puji-pujian kepada Alloh SWT dengan berbagai macam bahasa yang berbeda.

Detik berikutnya Sayyidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat oleh beliau bermacam-macam bintang di angkasa beterbangan yang sangat indah berkilau cahayanya.

Detik berikutnya Alloh SWT memerintahkan kepada Malaikat Ridhwan agar mengomandokan seluruh bidadari sorga agar berdandan cantik dan rapi, memakai kain sutra dan segala macam bentuk perhiasan dengan bermahkotan emas, intan permata yang bergemerlapan, dan menebarkan wangi-wangian sorga yang harum semerbak ke segala penjuru, lalu beribu-ribu bidadari itu dibawa ke alam dunia oleh Malaikat Ridhwan, terlihat wajah bidadari² itu gembira.

Lalu Alloh SWT memanggil :
“Yaa Jibril … serukanlah kepada seluruh arwah para Nabi, para Rosul, para wali agar berkumpul, berbaris rapi, bahwa sesungguhnya Kekasih-Ku cahaya di atas cahaya, agar disambut dengan baik dan suruhlah mereka mnyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW.

Yaa Jibril … perintahkanlah kepada Malaikat Malik agar menutup pintu-pintu neraka dan perintahakan kepada Malaikat Ridhwan untuk membuka pintu-pintu sorga dan bersoleklah engkau dengan sebaik-baiknya keindahan demi menyambut kekasih-Ku Nabi Muhammad SAW.

Yaa Jibril… bawalah beribu ribu malaikat yang ada di langit, turunlah ke bumi, ketahuilah Kekasih-Ku Muhammad SAW telah siap untuk dilahirkan dan sekarang tiba saatnya Nabi Akhiruzzaman.”

Dan turunlah semua malaikat, maka penuhlah isi bumi ini dengan beribu ribu malaikat.
Sayyidah Aminah melihat malaikat itupun berdatangan membawa kayu-kayu gahru yang wangi dan memenuhi seluruh jagat raya.
Pada saat itu pula mereka semua berdzikir, bertasbih, bertahmid, dan pada saat itu pula datanglah burung putih yang berkilau cahayanya mendekati Sayyidah Aminah dan mengusapkan sayapnya pada Sayyidah Aminah, maka pada saat itu pula lahirlah Nabi Muhammad Rosululloh SAW dan tidaklah Sayyidah Aminah melihat kecuali cahaya, tak lama kemudian terlihatlah jari-jari Nabi Muhammad SAW bersujud kepada Alloh seraya mengucapkan :
“Allaahu Akbar … Allaahu Akbar … Wal-Hamdulillaahi Katsiro, Wasubhanallaahi Bukrotan wa Ashiila…”

Kegembiraan memancar dari setiap sudut alam raya, gemuruh Shalawat memenuhi semesta dengan bahasa yang berbeda beda dan dengan cara yang bermacam macam pula.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Tidaklah Kami MENGUTUS Engkau (Muhammad) Melainkan Sebagai Rahmat Bagi Seluruh Alam (Al-Anbiya)

Allaahumma Sholli’alaa ala Sayyidinaa Muhammad Wa’alaali Sayyidinaa Muhammad

“Yaa Nabi Salam Alaika … Yaa Rosul Salam Alaika … Yaa Habib Salam Alaika … Shalawatullah Alaika … ”

Semoga Shalawat dan Salam senantiasa tercurahkan untuk Nabi Muhammad SAW berserta kluarga & para shabat yang menngikutinya dan kita umatnya hinga Akhir zaman semoga kita memperoleh safaatnya kelak.

Yaa Allah Yaa Rabb..
Semoga engkau bangkitkan kami dalam barisan yang sama bersama Rasul kami Yaa Habibi Yaa Rasulullah

Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin

(Diriwayatkan dari Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-syafi’i. Dalam kitabnya “Anni’matul-Kubro ’alal-alam).

Selamat menyambut hari kelahiran Rosululloh MUHAMMAD S.A.W

Allaahumma Sholli’alaa Sayyidinaa Muhammad.
Allaahumma Sholli ‘Alaihi wa Sallam.

Kisah Rasul SAW

“`Kita sdh masuk dibulan maulid biar tambah kecintaan kita kpd kanjeng Nabi yuk baca sebentar Mohon ijin share 1 cerita di ujung hidup seorang manusia yg sangat mencintai kita semua :

Allahuma Sholli’alaa Sayyidina Muhammad Saw..
😭😭😭😭😭😭😭
Cerita yang tak pernah ada bosannya
Mohon Baca yaa…
Sangat Mengharukan…
😭😭😭😭😭

Assalamu’Alaikum Wr. Wb…

Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah SAW sebelum wafat.
Rasulullah SAW telah jatuh sakit agak lama, sehingga keadaan beliau sangat lemah.

Pada suatu hari, Rasulullah SAW meminta Bilal memanggil semua Sahabat datang ke Masjid. Tidak lama kemudian, penuhlah Masjid dgn para Sahabat.
Semuanya merasa rindu setelah agak lama tidak mendpt Taushiyah dari Rasulullah SAW.

Beliau duduk dgn lemah di atas mimbar. Wajahnya terlihat pucat,
menahan sakit yg tengah dideritanya.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Wahai sahabat2ku semua. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kpdmu,
bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah satu2nya Tuhan yg layak disembah?”

Semua Sahabat menjwb dgn suara bersemangat,
“Benar wahai Rasulullah,
Engkau telah sampaikan kpd kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu2nya Tuhan yg layak disembah.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
“Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda lagi,
dan setiap apa yg Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat.

Akhirnya sampailah pada satu pertanyaan yg menjadikan para Sahabat sedih dan terharu.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya,
aku akan pergi menemui Allah SWT,
Dan sblm aku pergi,
aku ingin menyelesaikan segala urusan dgn manusia.
Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua.
Adakah aku berhutang kepada kalian?
Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut.
Karena aku tidak mau bertemu dgn Allah SWT dalam keadaan berhutang dgn manusia.”

Ketika itu semua para Sahabat diam,
dan dalam hati masing2 berkata “Mana ada Rasullullah SAW berhutang dengan kita? Kamilah yg banyak berhutang kepada Rasulullah”.

Rasulullah SAW mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali.

Tiba2 bangun seorang lelaki yg bernama UKASYAH,
seorg sahabat, mantan preman sblm masuk Islam, dan
dia berkata:

“Ya Rasulullah…
Aku ingin sampaikan masalah ini.
Seandainya ini dianggap hutang,
Maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa2″.

Rasulullah SAW berkata: “Sampaikanlah wahai Ukasyah”.

Maka Ukasyah pun mulai bercerita:
“Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, suatu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cemeti ke belakang kuda.
Tetapi cemeti tsb tidak kena pada belakang kuda,
Tapi justeru terkena pada dadaku,
Karena ketika itu aku berdiri dibelakang kuda yg engkau tunggangi wahai Rasulullah”.

Mendengar itu,
Rasulullah SAW berkata: “Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau,
Maka hari ini aku akan terima hal yg sama.”

Dengan suara yang agak tinggi,
Ukasyah berkata: “Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah.”

Ukasyah se-akan2 tidak merasa bersalah mengatakan demikian.

Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah kepada Ukasyah.
“Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah. Bukankah Baginda sedang sakit..!!?

Ukasyah tidak menghiraukan semua itu.
Rasulullah SAW meminta Bilal mengambil cambuk di rumah Fatimah, anaknya.

Bilal meminta cambuk itu dari Fatimah,
Kemudian Fatimah bertanya: “Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?”

Bilal menjwb dengan nada sedih: “Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah.”

Terperanjat dan menangislah Fatimah, seraya berkata:
“Kenapa Ukasyah hendak memukul Ayahku Rasulullah?
Ayahku sedang sakit,
kalau mau memukul,
pukullah aku anaknya”.

Bilal menjawab: “Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua”.

Bilal membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu diberikannya kepada Ukasyah.
Setelah mengambil cambuk itu,
Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah.

Tiba2, Abu Bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil
berkata: “Ukasyah… kalau kamu hendak memukul,
pukullah aku..!!
Aku adalah orang yang pertama beriman dgn apa yg Rasulullah SAW sampaikan.
Akulah sahabatnya di kala suka dan duka.
Kalau engkau hendak memukul,
maka pukullah aku”.

Rasulullah SAW bersabda: “Duduklah wahai Abu Bakar.
Ini urusan antara aku dgn Ukasyah”.

Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah SAW. Kemudian Umar bin Khattab berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata:

“Ukasyah…
kalau engkau mau mukul, pukullah aku.
Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad,
bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya.
Itu dulu. Sekarang, tidak boleh ada seorang pun yg boleh menyakiti Rasulullah Muhammad SAW.
Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah,
maka langkahi dulu mayatku..!!”

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
“Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah”.

Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah, dan tiba2 berdirilah Ali bin Abu Talib, sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW.

Dia menghalangi Ukasyah sambil berkata: “Ukasyah, pukullah aku saja.
Darah yang sama mengalir pada tubuhku ini wahai Ukasyah”.

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
“Duduklah wahai Ali,
ini urusan antara aku dengan Ukasyah”.

Ukasyah semakin dekat dgn Rasulullah SAW. Tiba2 tanpa disangka, bangkitlah kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW yaitu Hasan dan Husen.

Mereka berdua memegangi tangan Ukasyah sambil memohon…
“Wahai Paman,
pukullah kami Paman, Kakek kami sedang sakit,
Pukullah kami saja wahai Paman,,
sesungguhnya kami ini Cucu kesayangan Rasulullah SAW.
Dengan memukul kami, sesungguhnya itu sama dengan menyakiti Kakek kami,, wahai Paman.”

Lalu Rasulullah SAW berkata: “Wahai Cucu2 kesayanganku, duduklah kalian.
Ini urusan kakek dengan Paman Ukasyah”.

Begitu sampai di tangga mimbar,
dengan lantang Ukasyah berkata:

“Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini..!!”

Rasulullah SAW memang manusia terbaik. Kekasih Allah itu meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah SAW didudukkan pada sebuah kursi,
lalu dengan suara tegas Ukasyah berkata lagi:

“Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju,
Ya Rasulullah.”

Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah.
Tanpa ber-lama2 dalam keadaan lemah, Rasulullah SAW membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yg sangat indah; sedang beberapa batu terikat di perut Rasulullah, pertanda Rasulullah sedang menahan lapar…

Kemudian Rasulullah SAW berkata:
“Wahai Ukasyah,
Segeralah dan janganlah kamu ber-lebih2an.
Nanti Allah SWT akan murka padamu.”

Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW,, Cambuk di tangannya ia buang jauh2. Kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW se-erat2nya,, sambil menangis sejadi-jadi2nya…

Ukasyah berkata:
“Ya Rasulullah, Ampuni aku,
Maafkan aku;
Mana ada manusia yg sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya, agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu…
Karena Engkau pernah mengatakan “Barang siapa yang kulitnya pernah bersentuhan denganku, maka diharamkan api neraka atasnya.”

Seumur hidupku aku ber-cita2 dapat memelukmu.
Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka.

Dan sungguh aku takut dengan api neraka.
Maafkan aku ya Rasulullah…”

Rasulullah SAW dgn senyum berkata:

“Wahai sahabat2ku semua, kalau kalian ingin melihat Ahli Syurga, maka lihatlah Ukasyah..!!”

Semua sahabat menitikkan air mata. Kemudian para sahabat bergantian memeluk Rasulullah SAW.

SEMOGA dengan membaca ini, bila ada air mata, ini membuktikan Kecintaan kita kepada Kekasih Allah SWT…
Allahumma’sholli ‘alaa Sayyidina Muhammad.
Allahumma sholli ‘alayhi wassalam…

Semoga Allah SWT selalu meridhai kita semua. Aamiin…

Ayo kita posting di WA tentang Keagungan Rasulullah SAW…

Jangan sampai kisah ini kalah populer dibanding berita2 yang ada saat ini..!!
Seluruh dunia mencintai Nabi SAW.

Kami ingin mengajak 500.000.000 Sholawat kepada Sahabat yang mencintai Rasulullah Muhammad SAW.
Dengan ribuan orang berdzikir,, Semoga Negara2 Islam diselamatkan Allah SWT. Hanya dengan membaca dan menyebarkan kpd rekan2 kita…

KITA SEMUA UMAT
RASULULLAH SAW..!!!

ALLAHUMMA SHALLI’ALA SAYYIDINA MUHAMMAD,
WA’ALA AALI SAYYIDINA MUHAMMAD

Kirim kepada semua teman Muslim dan INSYA ALLAH dalam beberapa menit nanti ramailah orang bersama-sama membaca Keindahan dan Keagungan Kepribadian Rasulullah SAW, Sang Manusia Agung Kekasih Allah SWT.

TOLONG teruskan message ini..!!

Anggaplah sebagai sedekah Jariyah..!!

Jangan lupa untuk menghantarkannya kepada rekan2 anda…!!

Tolonglah,, walaupun anda tak mau membacanya secara tuntas,, hanya menghantarnya kpd rekan2 yg lain… sudah cukup..!!

Selesai membacanya, kirimkanlah kepada teman2 kita yang lainnya. Dalam beberapa menit, berjuta org akan membacanya..!! Anda tak akan rugi apa2 pun; biarkan Cerita Haru tentang Manusia Agung Kekasih Allah SWT ini senantiasa berjalan..!!!“`

اللّٰهم صَلِّ عَلَی سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَی آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدﷺ❤

Keberkahan Maulid

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ،ٍ مِفْتَاحِ بَابِ رَحْمَةِ اللهِ، عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللهِ، صَلاَةً وَسَلاَماً دَائِمَيْنِ بِدَوَامِ مُلْكِ الله، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهَ. أَمَّا بَعْدُ.

Masyhad al-Imam al-Quthb al-Musnid, al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi Tentang Keberkahan Maulid Nabi ﷺ

Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi berkata :

Ketika menghadiri Maulid, Ami Idrus (bin Umar al-Habsyi) berkata, “Wahai anakku, perhatikanlah kumpulan orang ini, pertemuan ini belum pernah dilakukan pada masa masa dahulu. Dalam pertemuan maulid ini aku memiliki sebuah pandangan.”

“Apa itu?” Tanyaku.

“Dalam perang Tabuk, an-Nabi ﷺ dan para sahabatnya tidak mempunyai cukup perbekalan. Beliau ﷺ memerintahkan agar setiap orang membawa makanan apapun yang mereka miliki. Ada yang datang membawa sebutir kurma, ada yang membawa dua butir, ada pula yang membawa segenggam gandum. An-Nabi ﷺ mengumpulkan makanan-makanan tadi, lalu memberkatinya. Kemudian Beliau ﷺ memerintahkan setiap sahabat mengambil sesukanya. Ada yang mengambil satu ember, ada yang mengambil satu karung penuh. Masing masing sahabat akhirnya mendapat bekal yang banyak berkat doa an-Nabi ﷺ. Begitu pula pertemuan Maulid ini. Setiap orang yang datang memiliki sirr, ada yang sedikit ada yang banyak. Kemudian an-Nabi ﷺ memberkatinya. Seusai Maulid, setiap orang pulang membawa sirr yang sangat banyak.”

Aku berkata kepada Ami Idrus, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas masyhad-mu ini.”

Catatan :
Sayyidina al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, beliau adalah salah seorang Mursyid thoriqoh Alawiyah, paman daripada al-Quthb al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi, muallif Maulid Simthud Duror. Dan juga al-Quthb al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih mengambil salah satu silsilah thoriqoh Alawiyah dari beliau, al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi rodhiyAllahu ‘anhum wanafa’ana bihim wabiulumihim wa asrorihim fiddaroini, aamiin.

Adab & Tatakrama Saat Menghadiri Maulid Nabi ﷺ
“Petuah Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari”

Tulisan berikut ini disarikan dari kitab an-Nur al-Mubin fi Mahabbat Sayyid al-Mursalin karya Hadhratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, salah satu tokoh sentral dan pendiri Nahdlatul Ulama. Beliau termasuk salah seorang pakar hadits (muhaddits) terkemuka di masanya, yang menjadi rawi ke-24 dari rantai silsilah hadits Shahih Bukhari-Muslim dari gurunya, asy-Syaikh Mahfudz at-Tarmasi, guru besar Masjidil Haram yang bermadzhab Syafi’i.

1. Adab Para Salaf Shaleh sebelum Hadir ke Tempat Acara Maulid Nabi ﷺ.

Sebelum menghadiri acara Maulid Nabi ﷺ, terlebih dahulu para salaf shaleh melakukan hal-hal berikut ini :

• Berwudhu dengan baik dan sempurna.
• Dalam keadaan masih basah dengan air wudhu, ia membaca : “Shalallahu ‘alaa Muhammad” 33x tanpa diselingi berbicara dengan yang lain.
• Lalu diusapkan ke wajahnya dan membaca doa sehabis wudhu.
• Kemudian melakukan shalat sunnah 2 rakaat dengan niat shalat sunnah Wudhu. Rakaat pertama setelah al-Fatihah membaca surat al-Kafirun, rakaat kedua setelah al-Fatihah membaca surat al-Ikhlas.
• Setelah salam membaca dzikir Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar masing-masing 3x.
• Lalu boleh ditambahkan shalat sunnah Hajat 2 rakaat. Rakaat pertama setelah al-Fatihah membaca surat al-Kafirun 3x, rakaat kedua setelah al-Fatihah membaca surat al-Ikhlas 3x.
• Setelah salam membaca istighfar 21x dan shalawat 3x.
• Lalu berdoa membaca niat untuk hadir Maulid Nabi ﷺ.

Contoh doa niat untuk hadir Maulid Nabi ﷺ :

“Allahuma Yaa Allah, Nawaitu an ahdhural maulidun biniyyati li ridhoi’llaah wa li ridhoi’ Rasulullah Muhammad ﷺ, Wa Syafa’ati Rasulullaahi ﷺ fii diin wad dunyaa wal akhirah, wa ‘alaa niyyati ‘anallaaha yaqdhii hajaatinaa, wayaqbalu dawaatinaa, wa yasyrahu shuduuranaa, wa yuyassiru ‘umuuranaa wa umuuraal muslimiin fii diin wad dunyaa wal akhiirat wa yaj’alunaa min ‘ibaadihish shalihiin.”

“Allahumma Ya Allah, kami niat untuk hadir Maulid Nabi-Mu ﷺ, dengan niat agar mendapat ridha Allah dan Rasulullah ﷺ, serta syafa’at Rasulullah ﷺ di dalam agama, dunia dan akhirat. Serta dengan niat agar Allah memberikan semua hajat (kebutuhan) kami, mengabulkan doa-doa kami, melapangkan kesulitan kami, memudahkan semua urusan kami dan urusan kaum muslimin di dalam hal agama, dunia dan akhirat, dan jadikanlah kami hamba-Mu yang sholeh.”

Atau bisa juga dengan membaca niat sebagai berikut :

نويت ان احضر المولد مثل ما نوي به اسلافنا الصالحون وبنيۃ تعظيم شهر ولادۃ النبي صلي ﷲ عليه وسلم وبنيۃ زيادۃ الايمان والتقوي والمحبۃ والقرب الي ﷲ والي الرسول صلي ﷲ عليه وسلم والي اسلافنا الصالحين

“Nawaitu an ahdhural maulid mitsla maa nawaa bihii aslafunaa ash-shaalihuun, wa bi niyyati ta’dziimu syahri wilaadatin Nabii ﷺ. Wa biniyyati ziyaadatil iimaani wat taqwaa wal mahabbati wal qurba ilaa Allahi wa ilar Rasuuli ﷺ wa ilaa aslaafina ash-shalihiin.”

“Aku niat untuk menghadiri maulid Nabi ﷺ, sama seperti niatnya para salaf shaleh sebelum kita, dengan niat memuliakan bulan kelahiran Nabi ﷺ dan dengan niat menambah iman, takwa, kecintaan dan kedekatan kepada Allah dan Rasulullah ﷺ serta para salaf shaleh.”

Atau bisa juga dengan membaca niat sebagai berikut :

نَوَيْتُ أنْ أَحْضُرَ المـولِد مِثْل
َ ما نَوى أسْلافُنا الصّالِحون

“Nawaitu an ahdhural maulidun mitsla maanawaa aslafunaash-shalihiin.”

“Aku niat hadir maulid Nabi ﷺ seperti niatnya para salafuna shalihin.”

و بنيَّة تَعْظِيم شَهْر وِلادَةِ النَّبي صلى اللّه عليه و آله و سلّم

“Wa biniyyati ta’zhiiman syahru wiladatin Nabi ﷺ.”

“Dan niat Mengagungkan bulan kelahiran Nabi ﷺ.”

و بِنِيَّة زِيادةِ الإيمان و زِيادَةِ التَّقوَى و المَحبَّة و القُرب إلى اللّه وإلى الرَّسول صلى اللّه عليه و آله و سلّم و أسلافِنا الصّالحين

“Wa biniyyati ziyaadatil imaan wa ziyaadatil taqwaa wal mahabati wa qurb ilaa Allah wa ilaa Rasulullah ﷺ wa aslafinaash shalihiin.”

“Dan dengan niat bertambahnya iman dan takwa, bertambahnya cinta serta mendekatkan diri kepada Allah, Rasulullah ﷺ, dan Salafuna Shalihin.”

و بنيّة إتِّباعِ الرَّسول صلى الله عليه و آله و سلّم ظاهِرًا و باطِنًا في القَوْلِ و الفِعْلِ و النِّيَّة

“Wa biniyyati ‘ittibaa’ir Rasulullah ﷺ, zhahiran wa bathinan fii qawli wal fi’li wan niyyat.”

“Dan dengan niat untuk mencontoh/meneladani/mengikuti Rasulullah ﷺ, secara zhahir dan bathin, baik dalam perkataan, perbuatan dan niat.”

و بنيّة أنَّ اللّهَ يُحَسِّن أخْلاقَنا و آدابَنا

“Wa biniyyati ‘anna Allaha yuhassin akhlaqanaa wa adaabanaa.”

“Dan dengan niat semoga Allah memperbaiki akhlak dan adab kita.”

و أَنَّ اللّه يَرْزُقنا النَّظَر إلى وَجهِ الحَبِيب سَيِّدِنا مُحمّدٍ صلّى اللّه عليه و آله و صحبِه و سلّم يَقْظَةً و مَنامًا في الدُّنْيا و الآخِرة و في البَرزَخ و هُوَ راضٍ
عَنَّا

“Wa annaallaha yarzuqunaa an-nazhar ilaa wajhi al-habib Sayyidina Muhammad ﷺ, yaqzhatan wa manaamaan fii dunya wal akhirah wa fiil barzakh wa huwa radhin ‘annaa.”

“Serta semoga Allah memberi rizqi kepada kita untuk dapat memandang wajah kekasih kita, Rasulullah ﷺ, baik secara langsung ataupun mimpi, di dunia maupun di akhirat, serta di alam barzah, dalam keadaan beliau, Rasulullah ﷺ, ridho kepada kita.”

و علَى كُلِّ نِيَّةٍ صالِحة في خَيْرٍ و لُطْفٍ و عافِيَة و سَلامَة

“Wa ‘alaa kulli niyyati shalihat fii khair wa luthfi wa ‘afiyaat wa salaamat.”

“Dan kami berniat dengan semua niatan yang sholeh dalam kebaikan, kelembutan, ‘afiyah (kebahagiaan) dan keselamatan.”

Hal itu semua di atas, seyogyanya dilakukan mulai berwudhu hingga shalat sunnah Wudhu sampai shalat sunnah Hajat, dilakukan tanpa diselingi perbuatan dan pembicaraan yang tidak berarti. Serta dilakukan dengan tertib pelaksanaannya dan berkesinambungan. Jika waktu tidak memungkinkan paling tidak shalat sunnah Wudhu lebih diutamakan.

2. Adab Para Salaf Shaleh saat Hendak Hadir ke Tempat Acara Maulid Nabi ﷺ.

Setelah melakukan amal shaleh di atas, barulah para salaf shaleh berjalan menghadiri Maulid Nabi ﷺ. Dalam masa perjalanan itu, hal-hal yang mereka lakukan adalah :

• Bertawakkal kepada Allah SWT.
• Sangat mengharapkan limpahan berkah, rahmat dan maghfirah Allah tercurahkan kepadanya.
• Berjalan penuh rasa tawadhu’ dan tadharru’ (menghadirkan perasaan khusyu’, seakan-akan hendak menemui Baginda Nabi ﷺ bersama para sahabatnya, dan para auliya’-Nya, yang disaksikan oleh Allah SWT. serta para malaikat-Nya).

Menanamkan adab batin ini sungguh sangat utama di dalam menghadiri Maulid Nabi ﷺ. Karena Allah melihat dan menyaksikan hati para hambaNya. Sebagaimana firmanNya dalam hadits qudsi : “Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba terhadap-Ku.”

3. Adab Para Salaf Shaleh saat Berlangsungnya Acara Maulid Nabi ﷺ.

Biasanya para salaf shalihin memperbanyak membaca shalawat kepada Baginda Rasulullah ﷺ, baik selama perjalanan, saat dan selama Maulid Nabi ﷺ berlangsung, baik dibaca secara sirr (dalam hati) ataupun jahr (diucapkan dengan lisan).

Momentum yang paling baik dan berkah dalam pembacaan Maulid Nabi ﷺ adalah pada saat Mahallul Qiyam (saat berdiri), ketika melantunkan: “Yaa Nabi salam ‘alaika, Yaa Rasul salam ‘alaika.”

Di antara bait-bait tersebut adalah momentum yang terbaik kita berdoa memohon kepada Allah SWT. atas segala doa dan hajat kita.

Maka perbanyak doa disela-sela membaca shalawat : “Yaa Nabi salam ‘alaika, Yaa Rasul salam ‘alaika” secara bersama-sama. Jadi di antara bait-bait tersebut seyogyanya kita berdoa. Insya Allah Mustajabah.

Yang tidak kalah pentingnya juga, adalah kita menghadirkan orang-orang yang kita cintai, seperti sanak keluarga, sahabat dan kerabat yang kita kehendaki ketika itu. Hadirkan dengan perasaan kita, bahwa mereka ikut hadir (bil ghaib) dalam pelaksanaan Maulid Nabi ﷺ. Insya Allah rahmat, berkah dan syafaatNya akan meliputi kepada mereka semua, yang walaupun secara lahiriah mereka tidak turut serta hadir.

Itulah salah satu kebesaranNya dan kasih sayangNya kepada umat Baginda Nabi ﷺ yang merupakan tetesan-tetesan air ar-Rahmah dari samudera rahmat Ilahi.

Di dalam pelaksanaan pembacaan Maulid Nabi ﷺ, seyogyanya kita mempertautkan hati kita dengan Baginda Nabi ﷺ. Bagi yang pernah berziarah ke makam Beliau ﷺ di Madinah al-Munawwarah, mungkin bisa kembali mengingat-ingatnya, seakan-akan membaca Maulid Risalah Baginda Nabi ﷺ di hadapan makam Beliau ﷺ yang mulia.

Bagi yang belum diberi rizki ziarah ke makam Nabi ﷺ, maka cukup membayangkan kehadiran Nabi ﷺ. Paling tidak kita merasa dilihat dan didengar oleh Baginda Nabi ﷺ. Sehingga akan semakin meningkatkan nilai dan kualitas dari Maulid Nabi ﷺ tersebut. Insya Allah dapat dirasakan kemanfaatannya, bukan hanya sekedar hadir duduk, doa, aamiin, makan, lalu bubar, sedangkan hati sanubari masih tetap kotor penuh karat dengan penyakit-penyakit lahiriah dan batiniah.

4. Maulid Nabi ﷺ Sebagai Ajang Memperbaiki Diri

Maulid Nabi ﷺadalah salah satu ajang yang sangat sakral untuk mengembalikan jati diri kita sebagai hamba Allah dan sebagai umat Baginda Nabi ﷺ. Oleh karenanya seyogyanya kita bisa memperhatikan dengan seksama arti, makna atau terjemahan dari bacaan Maulid Nabi ﷺ yang dibaca. Hal ini sungguh sangat bermanfaat guna meningkatkan kualitas hati kita menuju derajat ihsan di sisi Allah dan RasulNya.

Inilah salah satu sirr (rahasia) dari pelaksanaan Maulid Nabi ﷺ. Sehingga ketika kembali dari acara Maulid Nabi ﷺ itu, hati kita semakin bercahaya, insya Allah. Hati sanubari merasuk menjalar ke seluruh relung anggota tubuh kita, mengikis habis segala karat penyakit-penyakit lahir maupun batin. Dan semakin bertambah keimanan dan kecintaan kita kepada Allah dan RasulNya, sehingga buahnya menjadikan kita semakin ta’at akan melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya.

Wallahu a’lam, semoga barokah dan manfaat bagi kita semua, aamiin.

Sumber : Pustaka Pejaten

SEJARAH AULIYA DI TEGAL

“Kurang lebih Ada 400 waliyullah yang dimakamkan di Tegal”Sumbernya berasal dari getok tular para santri. Ini sangat menarik karena Slawi yang konon berasal dari “selawe (25) wali” juga merupakan misteri bagi sejarah kota ini yang sampai hari ini belum dituliskan. Logis saja karena misal di Tegal (kota dan kabupaten) ada makam 400 wali. Misal di kabupaten Tegal ada 18 kecamatan dan di kota ada 4 kecamatan. Misal satu kecamatan ada 20 Kyai, Habaib dan Auliya maka kita punya 400an” Jaya kemudian menyalakan Djarum supernya tanda diskusi ini dibuka. Budi kemudian membacakan pengantar diskusi ini. Dia bercerita Kita hidup di Tegal, salah satu tanah yang diberkahi Allah. Pengajian, Yasiinan, Tahlilan, Maulidan, Manaqib bagaikan lentera dan bintang yang bertebaran di kota dan kabupaten ini. Dari gang ke gang, RT, RW sampai desa-desa kegiatan religius tak pernah padam. Di kota ini khaul memperingati ulama hampir ada setiap bulan. Inilah tempat yang ditakdirkan para ulama dan auliya besar hidup dan bersandar menghembuskan nafas akhir mereka. Inilah kota yang ditakuti para penjajah karena hidup serat malang sumirang dalam tiap darah penduduknya. Diskusi santrijagad kali ini akan membahas riwayat dan sejarah ulama Tegal yang para peserta ketahui, apa yang mereka kontribusikan untuk perkembangan masyarakat Tegal juga apa pelajaran yang bisa kita petik dari perjuangan mereka. Diskusi ini sendiri sangat berat karena seharusnya merupakan tanggung jawab pemerintah terutama Kementerian Agama atau MUI untuk menginventarisir data-data juga sejarah dan kiprah para ulama dan sholihin suatu wilayah. Diskusi kami terbatas hanya akan melakukan list dari ulama-ulama yang kita kenal selama ini. Syukur-syukur mendapat tambahan dari teman-teman atau responden lain. “Para Peserta Bersantai Menikmati Udut dan Wedhangan” Kami bersama meyakini agenda “syirik wal bid’ah” terhadap kuburan para ulama adalah agenda global. Supaya ketika agama hindu memiliki tinggalan, Kristen dan Yahudi memiliki artefak-artefak sementara islam hanya tinggal cerita, yang akan dianggap dongeng dan khayalan sebelum tidur jika tidak didokumentasikan, diziarahi, diperingati setiap tahunnya. Bayangkan tak ada khaul, tak ada maulid di kota ini. “Islam akan sepi” seperti kata Buya Hamka, mahaguru Muhammadiyyah dalam akhir hayatnya. Jaya bercerita tentang bagaimana toponimi Tegal terbentuk seperti desanya yang bernama kesuben dari asal kata Ki Subi (Kyai Subi) seorang pembantu Sunan Amangkurat yang meninggal konon karena berperang di desa tersebut. Balapulang sendiri adalah ketika terjadi “bala pulang” dimana bala tentara Sunan Amangkurat terlalu lelah sehingga mesti berpulang. Daerah perpisahannya dinamakan Balapulang. Ada versi ketika di Slawi pasukannya tinggal 25 (Slawi) dan ketika di Balamoa (moa = habis) semua pasukannya habis. Ini mesti ditelusuri kembali. Jaya bilang: “budaya menulis di kita masih sedikit. Tak cukup menulis saja, kita pun mesti rajin melakukan validasi data kepada orang tua-tua kita, para ulama dan habaib untuk menambah literatur kita” Perihal Sunan Amangkurat, Sunan Panggung, Syeh Siti Jenar juga Syeh Mashur Al Hallaj kita perlu hati- hati sekali menafsirkannya. Banyak sejarah dipelintir oleh Belanda oleh para orientalis juga karena mereka menerapkan “devide et impera”, Belanda dan orientalis mencari kelemahan islam, juga perbedaan- perbedaan khilafiyyah dan kemudian membenturkannya. Karena mereka tahu bahwasanya islam akan hancur, akan ketinggalan dalam sainstek karena umat islam sendiri yang tidak mau bersatu. Mereka membenturkan kejawen dengan santri, membenturkan wahdatul wujud. Mereka benturkan tradisionalis islam dan modern, Diadu oleh mereka NU dan Muhammadiyyah. Ketika kurang berhasil, tidak kurang akal pula mereka kini membenturkan syiah dengan ahlussunnah, bahkan Syiah sekarang dimusuhi seolah bukan islam. Perihal ini kami teringat Sayyidina Ali pernah ditanya apakah Khawarij kafir? Beliau menjawab tidak! Mereka islam saudara kita. Betapa hati-hatinya beliau dan tidak mudah mengkafirkan sesama islam. Habib Ali Al Jufri dari Uni Emirat Arab berkata: “Musuh kita sebenarnya adalah yang meyakinkan kita bahwa Suni dan Syiah bermusuhan” Beberapa contoh adalah kita perlu meneliti ulang siapa Sunan Amangkurat yang benar-benar tidak adil secara penulisan sejarah. Sementara kita tahu, Sunan Amangkurat melahirkan banyak ulama besar di Tegal. Bagaimana orang-orang baik bisa lahir dari orang jahat? Budi pernah berasumsi mencoba mengambil sudut pandang non mainstream dengan catatan pendeknya tentang Sunan Amangkurat: “Sunan Amangkurat adalah putera tokoh Islam besar: Sultan Agung Hanyakrakusumo, diduga juga salah seorang Mursyid Thariqoh. Dari sanad-sanad tadi kelak menurunlah Pangeran Diponegoro yang konon merupakan Mursyid Thariqoh Naqsyabandi, seorang pejuang santri sejati. Sunan Amangkurat I berguru pada Syekh Syamsuddin yang dari kabar para orang tua langsung datang dari Bashrah ke Indonesia, ke kota kita. Pesan ketika beliau meninggal: “kuburkan aku di dekat guruku”, yaitu di Tegalarum atau Pekuncen. Sunan Amangkurat seperti mengalami fitnah secara literatur oleh Belanda bahkan sejarawan yang menggunakan literatur mereka, padahal kalau ditilik beliau memperjuangkan supaya NKRI tetap utuh. Orang-orang menganggap beliau bersekongkol dengan belanda, tapi itu politik, trik agar bisa memusnahkan mereka dari bumi pertiwi. Gus Dur pun dianggap antek Zionis, itu Gus Dur. Masih benar-benar dekat. Bagaimana kita membayangkan politik yang berkecamuk dahulu kala?” “Ada kejadian menarik di Sunan Amangkurat I. Saat wafatnya beliau berpesan kepada Sunan Amangkurat II supaya meneruskan bekerjasama dengan Belanda, lalu menumpas mereka dari belakang. Sunan Amangkurat dianggap belanda sangat membahayakan keberadaan, hingga diadu dombalah dengan Raden Mas Alit. Kondisi kacau balau, Kesultanan Plered pun menjadi saksi berdarah ulama backingan Raden Mas Alit dieksekusi. Para pakar sejarah menyebut ini kejadian terkelam, 5000 lebih ulama dieksekusi (versi belanda). Pertanyaannya kalau ini benar terjadi, itu ulama model apa? Wahabi? Ahmadiyah? Kebatinan? Atau ulama settingan belanda? Jika benar tragedi Plered terjadi, kita tak pelak mesti yakin yang dieksekusi adalah ulama yg memberontak, atau ulama-ulama yg mengajarkan penyimpangan seperti orang yang menyamar menjadi Syeh Siti Jenar” “Dulu jaman benar-benar keras. Ulama benarpun dieksekusi karena dianggap akan sulit dipahami seperti Al Hallaj, Syeh Siti Jenar, Mbah Panggung. Jenazah Sunan Amangkurat I kemudian diusung ke pekuncen, tempat terakhirnya. Pernah ada cerita dari kuncennya (juru kuncinya) menjadi saksi dari jasad Sunan Amangkurat yang masih utuh. Jasad yang utuh menurut ilmu santri beliau ini tak pernah tinggal tahajud dan wudhu juga huffad alqur’an. Beberapa orang yang salah kaprah meyakini Sunan Amangkurat memakai ajian Bathara Karang, Pancasona, Rawarontek, dst. Budi tidak meneruskan, menutup dengan menyampaikan Perihal Sunan Amangkurat I sendiri merupakan buku besar yang bisa dibahas Santrijagad secara khusus. Diskusi dilanjutkan dengan Geko yang mengeluhkan pesantren saat ini. Dia berpendapat kita sekarang harapan untuk menghasilkan ulama untuk penerang satu desa atau kecamatan sekarang pupus. Pondok semakin berkurang. Jaya merespon mungkin jalan terakhir pesantren bisa bertahan adalah memusatkannya, perlu dibangun semacam taman miniatur dunia islam seperti taman mini dimana ilmu-ilmu bisa ditimba dari desa/perkampungan tersebut. Dahulu di Surabaya terkenal kampung pesantren Dresmo. Rizki Adi dan Mitra yang sedari tadi diam kemudian ikut membantu listing ulama yang ada di Tegal dan sekitarnya. Kami membagi menjadi 4 era supaya memudahkan klasifikasi. Era 1400-1500 (Era Transisi Majapahit-Demak, Walisongo) Hiduplah ulama besar Mbah Panggung, Raden Watiswara (Sayyid Syarif Abdurrohman) dengan asumsi berinteraksi dengan Sunan Kalijaga (atau bahkan anak Sunan Kalijaga dari Nyi Siti Zainab) yang mengalami masa akhir majapahit tahun 1478 hingga kelahiran kerajaan pajang 1546. Sunan Kalijaga konon bila ke Tegal menyamar menjadi dalang dengan nama Ki Dalang Bengkok. Mbah Panggung dikabarkan juga berinteraksi dengan Sunan Kudus yang lahir tahun 1400. Julukan Mbah Panggung adalah Sunan Geseng yang makamnya ada di sekitaran Yogyakarta. Versi Jogjakarta Sunan Geseng adalah murid Sunan Kalijaga yang terbakar di hutan ketika sedang bertapa. Tinggalan dari Mbah Panggung adalah serat malang sumirang. Sebuah serat indah yang sejatinya adalah tentang tasawwuf tingkat tinggi selaras Syeh Ibnul Arabi juga Syeh Manshur Al Hallaj. Era 1600 Pangeran Surohadikusumo (Mbah Semedo/Semedhi) , kurang begitu diketahui datanya Pangeran Benawa (Anak darri Jaka Tingkir/ Hadiwijaya), Ayah dari Mas Jolang, Kakek dari Sultan Agung. Di akhir hayatnya pangeran Benawa mengembara ke Barat, pergi dari dunia politik (sekitar Pemalang dan menjadi ulama) Ki Gede Sebayu, bersama pangeran Benawa menyingkirkan Arya Pangiri. Semenjak itu beliau terkenal dan dijadikan pemimpin Tegal Sunan Amangkurat I, meninggal di Wanayasa Banyumas dalam perjalanan ke Batavia dalam kisah pemberontakan yang tragis. Dimakamkan di Pekuncen, konon tanahnya mengharum sehingga dinamakan Tegal Wangi Pangeran Purbaya (Jaka Umbara Bin Sutawijaya Bin Panembahan Senopati) Pangeran Hanggawana, putra dari Ki Gede Sebayu Ki Ciptosari Balapulang Mbah Subi, tentara dari Sunan Amangkurat. Dimakamkan di Kesuben Era 1700-1800 Habib Muhammad Bin Thohir Al Haddad Mbah Ki Ageng Suroprono Mbah Giri (Pendiri desa Giren) KH. Abu Ubaydah KH. Kurdi Bin Mbah Ki Ageng Suroprono KH. Armia Bin KH. Kurdi KH. Anwar Lemah Duwur Mbah Faqih Pesayangan KH. Sholeh Pekuncen KH. Baedowi Babakan Era 1900-sekarang Romo sepuh KH. Said bin KH. Armia Habib Muhammad Bin Ali Al Haddad KH. Rois bin KH. Armia (adik KH. Said) KH. Muarif Giren (Putra Angkat dari KH. Said Bin KH. Armia) KH. Romdhon (Kakek Nyai Jamilah, Istri KH. Said Bin KH. Armia) KH. Umar Asnawi Kebasen KH. Miftah Kajen KH. Barmawi Tegalwangi KH. Abu Suud Sutapranan KH. Manshur Kalimati KH. Jalil Kalimati KH. Mustofa Pegirikan (Putra KH. Said Bin KH. Armia) KH. Sanusi Kesuben KH. Tarhadi Cikura KH. Isa Babakan KH. Mufti Babakan Habib Hasan Bin Husein BSA KH. Nasichi Chobir Kebasen KH. Abdul Wahab Kalikangkung KH. Anang Tafsir Mbah Jahir (sejaman Gus Miek) Habib Tholib bin Muhsih Al Attas Bumijawa Mbah Busyro Habib Ghosim Bin Hasan Bin Husein BSA Habib Abdullah Bin Ahmad Al Kaff (Ayah Habib Thohir Al Kaff) Kyai Utsman Rifai Rancawiru Kyai Abdurrohim Durensawit Habib Hasan Bin Husein Bin Muhammad Bin Thohir Al Haddad Habib Murtadho bin Ahmad Al Hiyed Habib Hadun Al Attas Belum kami ketahui dan perlu riset mendalam: Mbah Komaruddin Mbah jinten/undagan, gurunya mbah benowo benawi (mungkinkah ini pangeran Benowo) Mbah Sutawijaya rancawiru, dijadikan nama jalan di Pangkah (mungkinkah ini Raden Sutawijaya?) Mbah Langgeng (dimakamkan sekitar Mbah Semedo) Mbah Kramat (baru dipugar sekitar tahun 2000an) Mbah Pendil Wesi Mbah Kendal Serut Syeh Abdul Ghoffar kendal Mbah Kalasan Karanganyar Kedungbanteng Syeh Abdullah bin Malik Kaliwadas (merupakan salah satu penyebar islam di Tegal, dengan tahun tidak diketahui) Syeh atas angin (abdurrohman al maghribi) Mbah abdurrohim/mbah besus/mbah kemuning Mbah imam basyari Data ini perlu dikoreksi, divalidasi oleh Ulama terkait dan pewarisnya. Kami bermohon maaf atas kesalahan segala catatan kecil ini atas keterbatasan pengetahuan kami. Kami bermohon berkah turun dari ditulisnya nama-nama ulama ini. Semoga catatan ini bisa menjadi motivasi khususnya bagi warga kita Tegal dan masyarakat seindonesia untuk melakukan dokumentasi dan pencatatan ulama setempat yang sudah berlalu agar kita menghargai jasa-jasa mereka sebagai pahlawan nasional Indonesia. Tidak kita mengenal Tuhan dan agama kecuali lewat mereka. Disusun bersama: . Adi Jaya Rizkiawan . Habibie Wilyama Dwi Sunu . Mitra Satriani . M. Budi Mulyawan . Rizki Adi Prianto Taman alun-alun Rumah Dinas Bupati Tegal Jum’at Malam, 12 Juni 2015 *

Misteri Tulang Ekor

بِسْـــــــــــــــــــــــــمِ اللّٰـهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

✌️Misteri Tulang Ekor yang Merekam Semua Perbuatan Manusia di Dunia

Balasan pada hari kiamat kelak tidak akan pernah tertukar. Dari tulang ekor inilah, manusia akan kembali dibangkitkan, dan mereka akan diberi balasan sesuai dengan kadar amal-amal mereka.

Ajaibnya, ini semua sudah disabdakan oleh Nabi berpuluh abad yang lalu.

“Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat,” (HR. Al-Bukhari, nomor 4935).

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (nomor 2955): Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallâhu alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh bagian tubuh anak Adam akan (hancur) dimakan tanah kecuali tulang ekor, darinya tubuh diciptakan dan dengannya dirakit kembali.”

Hadits tersebut menjadi hal yang gaib yang tidak mungkin bisa dijelaskan dengan logika.

Seiring berjalannya waktu beberapa penelitian ilmiah mampu menjelaskan kebenaran hadits tersebut di kemudian hari.

Adalah Han Spemann, Ilmuwan Jerman yang berhasil mendapatkan hadiah nobel bidang kedokteran pada tahun 1935.

Dalam penelitiannya ia dapat membuktikan bahwa asal mula kehidupan adalah tulang ekor.

Pada penelitian lain, Han mencoba menghancurkan tulang ekor tersebut.

Ia menumbuknya dan merebusnya dengan suhu panas yang tinggi dan dalam waktu yang sangat lama.

Setelah menjadi serpihan halus, ia mencoba mengimplantasikan tulang itu pada janin lain yang masih dalam tahap permulaan embrio.

Hasilnya, tulang ekor itu tetap tumbuh dan membentuk janin sekunder pada guest body (organ tamu).

Meskipun telah ditumbuk dan dipanaskan sedemikian rupa, tulang ini tidak ‘hancur’.

Lebih dari itu berdasarkan penelitian mutakhir, sebagaimana yang disampaikan oleh Jamil Zaini, Trainer Asia Tenggara Kubik Jakarta ketika mengisi acara buka puasa bersama di al Azhar-Solo Baru dengan tajuk, “Inspiring Day; Inspiring The Spirit of Life”, tulang ekor ini merekam semua perbuatan anak Adam, dari sejak lahir hingga meninggal dunia. Ia merekam semua perbuatan baik-buruk mereka.

Dan perbuatan mereka ini akan berpengaruh pada kondisi tulang ekornya. Putih bersih atau hitam kotor.

Semakin banyak energi positif atau kebaikan seseorang maka semakin bersih tulang ekornya, dan semakin banyak energi negatif atau keburukan seseorang maka semakin hitamlah tulang ekornya.

semoga menjadi renungan.

‎جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا
‎بارك الله فينا جميعا